Puluhan Profesor Teken Petisi Toleransi Agama

id petisi guru besar

Puluhan Profesor Teken Petisi Toleransi Agama

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Prof Muhibbin bersama jajaran pimpinan perguruan tinggi menandatangani Petisi Guru Besar dan Akademisi Perguruan Tinggi di Jawa Tengah menyikapi maraknya kasus intoleransi, bertempat di Wisma P

Semarang, ANTARA JATENG - Puluhan profesor dan akademisi perguruan tinggi di Jawa Tengah meneken petisi "Meski Berbeda, Kita Saudara" mengenai pentingnya toleransi agama.

Penandatanganan petisi itu dilakukan dalam rangkaian Silaturahim Kebangsaan (Rahim Bangsa) Profesor dan Akademisi Perguruan Tinggi se-Jateng di Semarang, Rabu.

Turut dalam penandatanganan petisi yang diprakarsai Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang itu, ulama kharismatik asal Pekalongan Habib Luthfi bin Yahya.

Rektor UIN Walisongo Semarang Prof Muhibbin mengakui belakangan ini semakin marak tindakan intoleransi agama yang dikhawatirkan bisa memecah belah persatuan bangsa.

"Ya, melihat kondisi masyarakat sekarang, apalagi di Jakarta. Sampai ada orang mati tidak boleh dishalati," katanya.

Selama ini, diakuinya, kalangan guru besar dan akademisi perguruan tinggi cenderung diam, tetapi bukan berarti membiarkan intoleransi yang terjadi di lingkungan masyarakat.

"Kami diam karena biarlah berproses. Namun, ternyata didiamkan kok terus bertambah tidak bagus. Ini saatnya kami harus berbicara kepada masyarakat untuk peduli," katanya.

Menurut dia, kalangan akademisi perguruan tinggi merasa peduli terhadap bangsa Indonesia agar kebhinnekaannya yang selama ini sudah terangkum secara baik menjadi tercabik.

"Ya, mungkin saja ada pihak-pihak yang sengaja tidak menginginkan suasana yang selama ini, aman dan damai. Makanya, kami harus bicara. Masyarakat harus peduli dengan bangsa ini," katanya.

Muhibbin berharap petisi untuk mengedepankan toleransi dari kalangan akademisi yang diiniasi di Semarang itu tidak berhenti di tingkat provinsi, melainkan berlanjut ke nasional.

Habib Luthfi yang menyampaikan tausiah pada kesempatan itu mengajak semua pihak untuk kembali merawat kebhinnekaan dengan saling menghormati, menghargai, dan tidak mengintervensi.

"Mari bareng-bareng kembali. Mulai dari `mindset` pendidikannya yang memang tidak meninggalkan kemodernan, tetapi fondasi kebangsaan, Merah-Putih, harus tetap dibangun," katanya.

Tujuannya, kata Habib Luthfi, generasi muda yang terus bertumbuh akan merasa bangga sebagai bangsa Indonesia yang berbeda-beda tetapi tetap bersaudara, dan tetap "handarbeni".

Setidaknya ada perwakilan 23 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta di Jateng yang menanda tangani petisi itu, belum termasuk 260 akademisi yang diundang dalam forum tersebut.

Beberapa di antaranya langsung diteken rektor, seperti UIN Walisongo, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Universitas Semarang, dan Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

Ada pula dari berbagai daerah di luar Semarang, seperti Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, Universitas Muria Kudus (UMK), dan Universitas Sains Al Qur`an (Unsiq) Wonosobo.

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar