Logo Header Antaranews Jateng

Petikan Harpa Meriahkan SIPA 2016

Jumat, 9 September 2016 08:17 WIB
Image Print
Sajian musik harpa pada Solo International Performing Art (SIPA) 2016 di Benteng Vastenburg Kota Solo, Kamis (8/9) malam. (www.antarajateng.com/Bambang Dwi Marwoto).

Solo, Antara Jateng - Suara petikan alat musik harpa yang dimainkan pemusik asal Jakarta Maya Christina Hasan memeriahkan suasana pergelaran Solo International Performing Arts (SIPA) Ke-8 2016 di Benteng Vastenburg Solo.

Pergelaran SIPA yang diikuti 300 seniman dari sembilan negara tersebut, dibuka oleh Deputi Hubungan Antarlembaga dan Wilayah Badan Ekonomi Kreatif Indah Sulistyanti di Benteng Vastenburg Solo, Kamis (8/9) malam.

Maya Christina Hasan yang akrab dipanggil Maya Hasan merasa bangga bisa tampil di SIPA Solo, disaksikan dengan antusias oleh ribuan penonton.

Dia membawakan beberapa lagu dengan harpanya, antara lain lagu daerah dan "Cintaku" (Chrisye).

Petikan alat musik harpa Maya Hasan yang berkolaborasi dengan penyanyi Solo Mutiara Dewi membawakan lagu ciptaan sendiri, "Matahari Terbit" menambah suasana menjadi meriah.

Maya Hasan mengaku mulai tertarik alat musik harpa sejak SMP dan belajar dari Heldy Awuy.

Pemain harpa di Indonesia saat ini hanya dua orang yang termasuk master, yakni Awuy dan Ussy Piters anggota TNT Orchestra.

Maya Hasan yang melanjutkan sekolah di Willamette University, Salem, Amerika Serikat juga mengambil Jurusan Harpa Performance.

"Saya bangga ikut tampil di SIPA, ajang pertunjukan seni internasional ini. Ribuan penonton sangat antusias mengikuti 'event' yang diikuti banyak seniman dunia ini," kata Maya Hasan.

SIPA juga dimeriahkan seorang aktor dan seniman musik Indonesia asal Yogyakarta Djaduk Ferianto bersama kelompok musiknya, Kua Etnika.

Djaduk Ferianto bersama sembilan personel kelompok musik Kua Etnika membawakan lagu-lagu Jawa dengan iringan kolaborasi musik jaz dan gamelan Jawa.

Sejumlah lagu yang dibawakan Djaduk Ferianto dengan Kua Etnika antara lain berjudul "Ritem" dilanjutkan "Nirwana" yang menonjolkan suara alat musik gitar bas dan gamelan Jawa menyatu menjadi alunan yang indah.

"Saya senang diundang pertunjukan SIPA di tempat bangunan cagar budaya Benteng Vastenburg ini. Ini tempat yang paling bagus di Indonesia dan dunia digunakan pertunjukan seni seperti SIPA," kata Djaduk.

SIPA juga dimeriahkan oleh grup tari Premjit Manipuri yang populer berasal dari bagian timur laut India, dan sering tampil pada ajang nasional dan internasional.

Grup itu menampilkan tari tradisional asal negaranya, seperti berjudul "Pung Cholom" dan "Dhol Cholom" yang menambah suasana panggung SIPA menjadi makin meriah.

SIPA sebelumnya diawali dengan penampilan maskot SIPA Peni Cadra Rini dengan melantunkan lagu-lagu Jawa dengan iringan musisi dari Philip Graulty asal Amerika Serikat, Rogrigo Parejo (Spanyol), Blessings Chimang (Zimbabwe), Neil Chua (Singapura), dan Ruanatworkz (Malaysia).

Para penari Sanggar Semarak Candrakirana yang mendampingi penembang Jawa asal Solo, Peni itu, turut menyemarakkan sajian pembuka SIPA tahun ini.

Park Na Hoon asal Korea Selatan juga mempertunjukkan tarian dengan tiga penari muda yang mengisahkan kebenaran, kehidupan manusia dari tiga organisme luar biasa di panggung SIPA.

Tarian tradisional asal Korea Selatan yang diperagakan tiga penari muda tersebut mendapatkan sambutan tepuk tangan yang meriah dari ribuan orang pengunjung SIPA yang mayoritas anak muda.



Pewarta:
Editor: M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026