Logo Header Antaranews Jateng

Sejumlah Sekolah Sikapi Berbeda "Full Day School"

Kamis, 11 Agustus 2016 07:20 WIB
Image Print
Sejumlah murid SD kelas 1 meneriakan 'yel-yel' saat melakuka perkenalan sekolah pada hari pertama masuk sekolah di SDN Minasaupa Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (18/7/2016). (ANTARA FOTO/Yusran Uccang)

Semarang, Antara Jateng- Sejumlah sekolah di Semarang menyikapi berbeda atas wacana sekolah sehari penuh atau "full day school" yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

"Kami siap jika ditunjuk untuk melaksanakan program itu atau wacana itu jadi direalisasikan," kata Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Semarang Eko Djatmiko di Semarang, Rabu.

Menurut dia, siswa akan menjadi lebih mandiri dalam melakukan manajemen waktu antara di rumah maupun sekolah, sementara sistem itu juga bisa diaplikasikan seimbang antara belajar dan bermain.

Yang jelas, kata dia, sekolah siap mengakomodasi termasuk mengenai permasalahan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk penerapan "full day school", serta kesiapan guru atau tenaga pengajar.

Tanggapan berbeda disampaikan Kepala SMP Negeri 2 Semarang Teguh Waluyo meminta untuk meninjau ulang wacana tersebut dan mengkajinya dalam berbagai aspek sebelum benar-benar diterapkan sekolah.

"Apalagi, anak-anak usia SMP. Melihat dari aspek psikologi dikhawatirkan justru akan membuat siswa mengalami kebosanan. Kalau untuk siswa sekolah menengah atas (SMA) mungkin sudah siap," katanya.

Namun, kata dia, jika benar-benar jadi diterapkan masih tetap menggunakan kurikulum yang ada, yakni kurikulum 2013 dengan pengadopsian muatan lokal yang bersifat ringan agar siswa tidak jenuh.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi menyepakati wacana sistem "full day school" untuk membuat siswa lebih memiliki karakter mandiri dan lebih fokus dalam proses belajar mengajar.

"Nantinya, kalau benar jadi dilaksanakan tentunya di sekolah pastinya ada persentase antara belajar dan bermain. Ini penting agar ada keseimbangan," kata politikus PDI Perjuangan tersebut.

Ia mengatakan siswa juga tetap harus diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama orang tua, keluarga, dan bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat agar tidak jenuh dalam belajar.

"Jika mau dilaksanakan, tentu harus ada kurikulumnya dulu. Apalagi, jam pelajarannya pasti bertambah. Kalau sudah (kurikulum, red.) dirancang, sarana dan prasarananya bagaimana," katanya.

Selain itu, Supriyadi meminta pemerintah untuk ikut merangkul sekolah swasta agar bisa turut serta dalam melaksanakan kebijakan tersebut dan tidak hanya diterapkan di sekolah-sekolah negeri.

Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan wacana "full day school" tetap berjalan meskipun terjadi pro-kontra dari berbagai kalangan masyarakat dalam menanggapi wacana yang digulirkannya tersebut.

"'Full day', jalan. Teknisnya belum, tetapi Insya Allah jalan. Itu berkaitan dengan pendidikan karakter tingkat SD dan SMP," katanya, usai berkunjung ke SMK Muhammadiyah Imogiri Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu.



Pewarta:
Editor: Mugiyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026