
Pembebasan Lahan Tol Batang-Pemalang Buntu

Pada rapat musyawarah di balai kelurahan setempat, Selasa, pemilik lahan, Slamet Johan (59) di Pekalongan, Selasa, mengatakan bahwa warga kecewa dengan penawaran harga tanah yang diajukan oleh tim penaksir yaitu Rp1 juta per meter padahal harga pasaran mencapai Rp1,6 juta per meter.
"Rumah yang kami tempati merupakan satu-satunya, sedang harga ganti rugi tanah yang ditawarkan oleh tim appraisal tidak bisa untuk dibelikan tanah lagi. Pada sosialisasi pertama, kami dijanjikan ganti untung kenapa kok berubah menjadi ganti rugi," katanya.
Menurut dia, warga akan mendukung program pemerintah tetapi rakyat merasa ditekan agar tanah miliknya dapat segera dijual.
"Warga akan menyerahkan lahan maupun rumah yang dimiliki tetapi harganya yang realistis. Saat ini harga yang ditawarkan oleh tim masih di bawah harga pasaran sehingga kami menolak menjual," katanya.
Pemilik lahan lainnya, Ulik (33) mengatakan berdasar nilai jual objek pajak (NJOP), harga tanah di Kelurahan Soko Duwet Rp900 ribu per meter sedang harga pasaran mencapai Rp1,6 juta per meter.
"Kemudian jika tim appraisal hanya menawar Rp1 juta per meter maka pemilik lahan jelas rugi. Warga meminta harga lahan tiga kali lipat dari harga pasaran Rp1,6 juta/meter," katanya.
Ketua Panitia Pelaksana Pembebasan Tanah (P2T) Proyek Jalan Tol Pemalang-Pekalongan, Heri Sulistyo mengatakan P2T hanya menjalankan tugas untuk melakukan penawaran pembebasan lahan tol.
"Kami tidak mempermasalahkan setuju atau tidak. Jika memang tidak setuju dengan penawaran yang diajukan oleh tim appraisal, itu menjadi hak pemilik lahan," katanya.
Pewarta: Kutnadi
Editor:
Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
