Logo Header Antaranews Jateng

Pengrajin Sapu Ijuk Tradisional Boyolali Berani Bersaing

Sabtu, 31 Oktober 2015 11:14 WIB
Image Print
Ilustrasi- (Foto: ANTARA/Anis Efizudin/Koz/pd/12.

"Sapu ijuk ini kelihatannya sangat tradisional produksinya, tetapi kualitasnya tidak kalah dengan sapu rayung dan bahan baku plastik yang lebih modern," katanya di Boyolali, Sabtu.

Ia mengatakan hingga saat ini sapu ijuk produk desa setempat masih tetap digemari konsumen karena kualitasnya yang tetap baik dengan harga yang bervariasi dan relatif murah, antara Rp3.000-Rp7.000 per batang.

"Sapu ijuk produksi Desa Dawar harganya sangat murah dan terjangkau masyarakat, tetapi sapu-sapu modern yang dijual di toko-toko lebih mahal," kata Siti yang menekuni usaha kerajinan ekonomi kreatif itu sejak 2006, meneruskan usaha orang tuanya.

Ia mengatakan permintaan pasar terhadap sapu ijuk di sentra kerajinan daerah setempat, terus mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Kemampuan produksi kerajinan rumah tangga itu, katanya, rata-rata 50 batang per hari. Produk sapi ijuk dari desa setempat dipasok ke sejumlah daerah, seperti Solo, Wonogiri, Klaten, Karanganyar, Sukoharjo, dan Yogyakarta.

Ia mengaku saat ini mampu menjual produknya setiap minggu rata-rata 350 batang atau meningkat 100 persen dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Para pengrajin sapu ijuk, katanya, mendatangkan bahan baku dari Ciamis, Jawa Barat, dengan harga sekitar Rp6.000 per kilogram.

Sebagian besar warga setempat menjadi pengrajin sapu ijuk. Jumlah pengrajin saat ini sekitar 250 orang. Di antara mereka ada yang secara khusus menjadi penyedia batang sapu ijuk terbuat dari kayu.

Seorang pengrajin lainnya, Darmanto (44), mengatakan batang sapu ijuk terbuat dari kayu lunak, seperti sengon dan melinjo, dengan harga Rp900 hingga Rp1.000 per batang.

"Kami melayani masyarakat, terutama pengrajin sapu ijuk, rata-rata mampu menjual sekitar 3.000 per hari," katanya.



Pewarta:
Editor: Mugiyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026