
Meluas, Kekeringan di Jateng Bagian Selatan

"Dari pantauan kami, wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem semakin meluas. Ini karena beberapa wilayah yang sebelumnya masuk kategori kemarau sangat panjang, kini menjadi kekeringan ekstrem," katanya di Cilacap, Selasa.
Menurut dia, suatu wilayah masuk kategori kekeringan ekstrem jika lebih dari 60 hari tidak ada hujan, sedangkan kemarau sangat panjang jika dalam kurun 31-60 hari tidak ada hujan.
Bahkan, kata dia, ada beberapa wilayah yang telah lebih dari 90 hari tidak ada hujan, antara lain daerah-daerah di pesisir selatan Cilacap, wilayah barat Cilacap, sebagian Kabupaten Banyumas, Kebumen, dan Purworejo.
Selain itu, lanjut dia, kebakaran hutan juga banyak terjadi dan terakhir kali melanda kawasan hutan milik Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur di Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, pada Senin (19/10).
Ia mengatakan bahwa kondisi tersebut disebabkan pengaruh fenomena "El Nino" di wilayah Jateng selatan masih kuat.
"Kami prakirakan awal musim hujan di wilayah Cilacap, Banyumas, Purbalingga, dan Banjarnegara akan berlangsung mulai dasarian (10 hari, red.) pertama bulan November dengan masa transisi relatif pendek. Sementara awal musim hujan di wilayah Kebumen dan Purworejo diprakirakan pada dasarian kedua bulan November," katanya.
Dia mengakui bahwa tanda-tanda akan datangnya musim hujan sebenarnya mulai terlihat dan dapat dirasakan, antara lain adanya pembentukan awan hujan dan hawa terasa panas meskipun suhu udara hanya berkisar 29-30 derajat Celcius.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
