Kepala Unit Pelaksanaan Teknis Dinas (UPTD) Objek Wisata Umbul Pengging, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Boyolali, Walianto, di Boyolali, Senin, mengatakan, Umbul Pengging yang dikelola langsung oleh Disbudpar Boyolali yakni Umbul Sungsang dan Keputren, sedangkan lainnya oleh pihak ketiga.
Menurut Walianto, pengunjung yang datang di Umbul Pengging kebanyakan melakukan ritual karena objek wisata tersebut memiliki nilai sejarah dan dibangun pada zaman Raja Kasunanan Surakarta, Sinuwun Pakubuwono X.
Menurut dia, pada lokasi kolam keputren biasanya digunakan oleh wanita, sedangkan Umbul Sungsang untuk pria yang melakukan ritual berendam atau sering disebut "Kumkum".
Dua lokasi tersebut, kata dia, pada siang hari biasa digunakan berenang oleh anak-anak dan orang dewasa yang menikmati air umbul yang jernih dan terasa dingin.
Menurut dia, lokasi Umbul Sungsang dan Keputren tersebut biasanya dipadati pengunjung setiap hari malam Jumat bisa mencapai hingga 500 orang, sedangkan hari-hari biasa rata-rata hanya 20 hingga 30 orang per hari.
Menyinggung soal retribusi bagi pengunjung, Walianto menjelaskan bahwa setiap pengunjung yang henda masuk ke lokasi dua objek wisata itu cukup mengeluarkan uang sebesar Rp2.500 per orang.
Selain itu, pengunjung juga dapat melakukan ziarah ke makam Raden Ngabei Yosodipuro yang terletak di kawasan Umbul Sungsang. R.Ng. Yosodipuro merupakan seorang pujangga Keraton Surakart yang dikenal kearifannya. Beliau pernah diminta rakyat Pengging untuk mengatasi kegagalan panen padi.
Pada peristiwa tersebut, kata dia, kemudian diperingati oleh masyarakat setempat dengan tradisi "Sebaran Apem" atau pembagian apem hingga sekarang setiap bulan Sura kalender Jawa, yang banyak dikunjungi ribuan orang.

