
SiBagus: Masyarakat Cerdas, Kampanye Harus Cerdas

"Di Kota Semarang ini, pemilihnya sudah cerdas-cerdas dan berpendidikan. Jadi, tidak bisa diarahkan ke hal-hal yang begitu (negatif, red.)," kata bakal calon Wali Kota Semarang Sigit Ibnugroho di Semarang, Senin.
SiBagus diusung oleh tiga partai politik (parpol), yakni Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Golkar pada Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota (Pilwakot) Semarang 2015.
Ia menyebutkan setidaknya 80 persen dari total penduduk Kota Semarang yang mencapai sekitar 1,7 juta jiwa merupakan orang yang terdidik, apalagi banyak kampus atau perguruan tinggi di Kota Atlas.
"Kemudian, dari 1,2 juta jiwa pemilih, 85 persen di antaranya saya yakin adalah pemilih yang terdidik dan cerdas. Kita bicara secara keseluruhan. Kota Semarang ini kan ibukota provinsi," katanya.
Meski demikian, ia tidak memungkiri masih ada masyarakat yang berpikiran pragmatis, terutama di kawasan-kawasan pinggiran yang mungkin bisa saja terpengaruh dengan iming-iming uang (money politic).
"Namun, mayoritas adalah pemilih cerdas. Makanya, harus berkampanye dengan cara-cara yang mencerdaskan, seperti visi-misi dan program kerja yang konkret," kata Ketua Prabowo Centre Semarang itu.
SiBagus, kata dia, selama ini menawarkan visi-misi dan program kerja yang menjadi unggulan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi Kota Semarang, seperti pembenahan birokrasi.
"Kami akan ciptakan birokrasi bersih, berwibawa, berintegritas, dan akuntabel. Pembangunan infrastruktur juga harus terintegrasi, misalnya antara transportasi dan pengendalian banjir," katanya.
Pembangunan infrastruktur yang terintegrasi, kata dia, juga menghindarkan dari pengulangan-pengulangan pembangunan karena tidak bervisi ke depan, misalnya sekarang dibangun, namun besoknya dibongkar.
"Kami berkampanye selama ini dengan memberikan pencerahan, kampanye edukatif, kampanye visi-misi. Kami tawarkan program kerja, apa yang seharusnya bisa dilakukan, namun selama ini tidak dilakukan," tegasnya.
Selain itu, kata dia, kampanye edukatif juga meminimalkan masyarakat yang golput (golongan putih) karena masyarakat diberikan kesadaran pentingnya berpartisipasi aktif pada pemilihan kepala daerah.
"Dengan kampanye edukatif ini, kami berharap peran serta aktif dan kepedulian warga terhadap pilkada meningkat. Kalau ingin Semarang berubah, ingin Semarang jadi bagus, ya, ikut pilkada," pungkasnya.
Pewarta: -
Editor:
Zuhdiar Laeis
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
