Logo Header Antaranews Jateng

Nelayan Waduk Diminta Waspadai Perubahan Cuaca

Kamis, 21 Mei 2015 19:31 WIB
Image Print
ilustrasi

"Perubahan cuaca musim panas dampaknya pertumbuhan ikan menjadi lebih lama, yakni antara 6--7 bulan baru bisa dipanen," kata Maryanto (45), Ketua Kelompok Peternak Ikan Keramba "Mina Sejahtera" di Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Kamis.

Bahkan, kata dia, para nelayan di Cengklik pada tahun sebelumnya banyak ikannya yang mati lemas akibat suhu air terlalu panas pada musim kemarau.

Oleh karena itu, pihaknya mengimbau para nelayan atau peternak ikan keramba di Cengklik harus bisa mengantisipasi perubahan musim yang biasa sering berlangsung pada bulan Juli hingga September mendatang.

"Pada bulan-bulan itu, musim panas dan volume air waduk juga akan berkurang sehingga pertumbuhan dan kondisi ikan agar lebih banyak dipantau," kata Maryanto yang mengaku memiliki 70 anggota kelompok peternak ikan keramba dengan luas petak sekitar 600 petak.

Maryanto menjelaskan pertumbuhan ikan, khususnya jenis nila merah, yang dipelihara para nelayan pada tahun-tahun sebelumnya hanya membutuhkan waktu sekitar 4 bulan mereka sudah bisa memanen.

Namun, para peternak kini akibat sering perubahan cuaca dan makin dangkalnya kondisi waduk, pertumbuhan ikan dari bibit hingga siap panen perlu waktu 6--7 bulan.

"Saya memiliki 10 petak dengan jumlah tebaran bibit ikan nila sebanyak 30.000 ekor. Jika kondisi normal ikan yang bisa dipanen sekitar 70 persennya," kata Maryanto.

Menurut dia, kemampuan panen setiap bulan rata-rata sekitar 5 kuintal. Hal itu selalu berputar dari petak pembibitan hingga petak siap panen.

"Setiap petak keramba rata-rata menghasilkan sekitar 3 kuintal ikan segar. Harga ikan nila di tingkat peternak sekarang mencapai Rp19.750,00 per kilogram. Jumlah penjualan hasil panen rata-rata sekitar Rp9,8 juta per bulan," katanya.

Kendala yang dihadapi para nelayan sekarang ini, kata Maryanto, masalah harga pakan ikan yang terus mengalami penaikan, bahkan terakhir mencapai Rp273 ribu per sak isi 30 kg, sedangkan harga sebelumnya hanya sekitar Rp260 ribu/sak.

Kendati demikian, pihaknya mengantisipasi memasuki musim panas dengan cara pengurangi tebaran bibit sehingga ikan lebih leluasa atau tidak terlalu padat di dalam keramba.



Pewarta:
Editor: hernawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026