
Masuki Panen, Harga Gabah Berangsur Turun

"Saat awal panen, harga GKP sebesar Rp5.200/kg dan selanjutnya turun menjadi Rp4.500/kg, sekarang Rp3.800/kg," kata salah seorang petani, Supar (56) di Desa Sokaraja Wetan, Kecamatan Sokaraja, Banyumas, Kamis.
Oleh karena itu, dia mengaku akan segera menjual gabah hasil panennya selagi harganya masih tinggi.
"Mumpung harganya masih tinggi. Kebetulan hasil panennya cukup bagus karena bisa mencapai enam ton per hektare," katanya.
Petani lainnya, Karto (45) mengatakan bahwa saat ini petani masih bisa menikmati keuntungan meskipun hanya sedikit.
"Kami masih untung meskipun hanya sedikit karena harga di pasaran masih sebesar Rp3.800/kg sedangkan berdasarkan HPP Rp3.700/kg," katanya.
Sementara di Kabupaten Cilacap, harga GKP telah berada di bawah HPP, yakni sebesar Rp3.600/kg karena wilayah itu telah memasuki panen raya.
Salah seorang petani di Maos, Suwito (48) mengaku lebih memilih memilih menjual gabah hasil panen ke Bulog karena harganya sesuai HPP.
"Daripada saya jual ke pedagang harganya hanya Rp3.600/kg, lebih baik jual ke Bulog karena sesuai HPP yang sebesar Rp3.700/kg," katanya.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Humas Bulog Subdivisi Regional Banyumas M. Priyono mengatakan bahwa saat ini, 53 mitra kerja dan Satuan Tugas (Satgas) Bulog mulai melakukan pembelian gabah dan beras dari petani.
Ia mengakui bahwa harga GKP di tingkat petani saat ini bervariasi karena berkisar Rp3.600-Rp4.000/kg.
Kendati demikian, dia mengatakan bahwa mitra kerja dan Satgas Bulog langsung membeli gabah jika ada wilayah yang harga GKP-nya sudah berada di bawah HPP.
"Kami tidak mungkin membeli gabah atau beras jika harganya di atas HPP. Hingga saat ini sudah ada 30 ton GKP yang masuk ke gudang Bulog," katanya.
Bulog Banyumas pada 2015 ditargetkan menyerap gabah dan beras sebesar 85.000 ton setara beras dari petani sebagai upaya mendukung program ketahanan pangan.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
