Upaya Microsoft untuk membantu pengguna XP tersebut ditempuh setelah perusahaan keamanan siber FireEye mengingatkan bahwa kelompok hacker tingkat tinggi telah mengekploitasi kelemahan pada XP.

Kelompok peretas itu telah mengeksploitasi bug pada Microsoft XP untuk meluncurkan serangan dalam sebuah kampanye yang disebut "Operation Clandestine Fox", menurut Reuters dalam laporannya Kamis (Jumat WIB).

Ini merupakan serangan profil tinggi pertama sejak Microsoft menghentikan layanan purna jual (support) terhadap sistem operasi berusia 13 tahun XP pada 8 April lalu.

Microsoft pada Rabu kemarin mengatakan tidak akan menyediakan bantuan untuk pengguna Windows XP karena layanan support sudah dihentikan.

Tapi, pada Kamis kemarin, ketika Microsoft mulai merilis perbaikan untuk bug XP melalui sistem update otomatis Windows, juru bicaranya mengatakan perbaikan itu juga diberikan kepada pelanggan XP.

"Kami memutuskan untuk memperbaiki itu, perbaiki itu dengan cepat, dan perbaikan ini untuk semua pelanggan kami," kata juru bicara Microsoft Adrienne Hall di blog resmi Microsoft.

Dia mengatakan belum banyak serangan yang mengeksploitasi kelemahan itu, ketika Microsoft memutuskan untuk menambal bug XP "berdasarkan kedekatan" sampai dukungan benar-benar tidak dihentikan.

"Ada jumlah yang sangat kecil dari serangan berdasarkan pada kerentanan tertentu dan kekhawatiran itu, terus terang, berlebihan," katanya dalam blog.

Pada akhir pekan lalu, FireEye awalnya menemukan serangan yang melibatkan versi terbaru dari Windows yang masih didukung oleh Microsoft.

Kemudian, tiga hari lalu, mereka mulai mengidentifikasi serangan pada Windows XP, yang mungkin tidak mampu dicegah oleh pengguna jika Microsoft tidak memutuskan untuk menyediakan update bagi pengguna XP.

FireEye mengatakan dalam sebuah blog yang diterbitkan pada hari Kamis bahwa mereka telah mengamati kelompok-kelompok baru dari hacker mengeksploitasi kerentanan untuk menyerang sektor-sektor pemerintah dan energi, di samping sebelumnya diidentifikasi serangan terhadap industri keuangan dan pertahanan.

Microsoft berada di bawah tekanan untuk bergerak cepat ketika pemerintah Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman menyarankan pengguna komputer pada hari Senin untuk tidak menggunakan browser Microsoft Explorer sampai ada perbaikan.

Pewarta : -
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2024