Puluhan warga yang membawa sejumlah poster bertuliskan aspirasi penolakan tersebut melakukan aksinya secara damai di depan Kantor DPRD Kota Semarang, Kamis.

Sejumlah poster yang mereka bawa di antaranya bertuliskan "Tolak pembangunan menara BTS adalah harga mati", "Kami tidak mau terima efek negatif menara", serta tulisan "Kami butuh aman dan bukan tali asih".

Anisah, juru bicara warga mengaku menara BTS tersebut sudah berdiri dengan ketinggian sekitar 30 meter di bantaran sungai dan warga mengkhawatirkan menara tersebut roboh mengenai rumah warga.

"Kekhawatiran utama kami para warga selain masalah kesehatan adalah kerobohan menara," kata Anisah yang rumahnya juga berada di area rawan tertimpa menara.

Ia mengaku puluhan rumah berada di kawasan rawan kerobohan menara, karena menara dibangun di daerah permukiman padat dengan masa kontrak 20 tahun.

Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Penolak Pembangunan Tower BTS Prasetyo yang rumahnya juga berada di daerah rawan roboh menegaskan bahwa banyak warga yang tidak setuju dengan pembangunan menara tersebut.

"Akan tetapi oleh pihak perangkat daerah setempat mengaku seluruh warga menyatakan setuju dengan pembangunan menara tersebut. Oleh karena itu, kami ingin menyampaikan bahwa banyak warga yang tidak setuju," katanya.

Djuminten dan Budiharto, warga Cimpedak yang lain juga mengaku bahwa kekhawatiran terkait dengan kesehatan dan bahaya kerobohan menara di tingkat warga sangat tinggi.

Oleh karena itu, warga berharap agar pendirian menara BTS tersebut dapat diambil dan tidak lagi menjadi momok menakutkan bagi warga.

Pewarta : Nur Istibsaroh
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026