Semarang (ANTARA) - Atmosfer haru dan bangga menyelimuti Hotel Mahima Semarang dalam acara Pelepasan dan Pembekalan Wisuda Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo. Salah satu sorotan utama tertuju pada Mita Putri Apriliani, mahasiswi Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) S1 yang resmi dikukuhkan sebagai wisudawan terbaik prodi dengan capaian IPK fenomenal 3,95.
Bagi Mita, momen kelulusan ini mendatangkan pergolakan rasa yang luar biasa di dalam dadanya. “Alhamdulillah, rasanya campur aduk antara bahagia, haru, dan tidak menyangka. Perjalanan yang panjang akhirnya sampai di titik ini. Menjadi wisudawan terbaik tentu sebuah kehormatan besar, tapi bagi saya ini bukan hanya tentang gelar, melainkan tentang proses, doa, dan perjuangan yang akhirnya terbayarkan,” ungkap Mita dengan mata berkaca-kaca.
Prestasi gemilang Mita tidak lepas dari keseriusannya dalam menggarap tugas akhir yang sarat akan nilai toleransi dan kebudayaan nusantara. Ia sukses mempertahankan skripsi berjudul “Implementasi Nilai Moderasi Beragama pada Tradisi Satu Tungku Tiga Batu dalam Konseling Keluarga Islam di Kampung Patipi Pulau.”
Sebagai informasi, “Satu Tungku Tiga Batu” merupakan filosofi hidup beragama di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, yang melambangkan tiga elemen (Islam, Kristen Protestan, dan Katolik) yang saling menopang dalam satu ikatan keluarga atau masyarakat.
Mita menjelaskan bahwa ia sengaja membawa kearifan lokal tersebut ke dalam ruang akademis konseling Islam. “Penelitian ini membahas bagaimana nilai-nilai moderasi beragama tercermin dalam tradisi lokal Satu Tungku Tiga Batu, yang menjadi simbol kebersamaan, keseimbangan, dan toleransi dalam kehidupan keluarga. Saya tertarik mengangkat topik ini karena melihat pentingnya mengintegrasikan kearifan lokal dalam praktik konseling keluarga Islam agar lebih relevan dengan kehidupan masyarakat nyata,” urainya.
Ia pun menaruh harapan besar agar buah pikirannya tersebut dapat diimplementasikan secara luas. “Saya berharap penelitian ini tidak hanya berhenti sebagai karya akademik di perpustakaan, tapi bisa dikembangkan lebih lanjut dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam bidang bimbingan dan konseling Islam.”
Pencapaian IPK yang nyaris sempurna sebesar 3,95 diakui Mita sebagai kejutan yang sangat ia syukuri. Pasalnya, sejak awal menginjakkan kaki di bangku perkuliahan, ia tidak pernah menargetkan gelar tersebut dan hanya fokus memberikan performa maksimal pada setiap prosesnya.
Saat ditanya mengenai “rahasia” belajarnya, Mita membagikan tips yang sebenarnya sederhana namun butuh kedisiplinan tinggi. “Saya selalu berusaha konsisten, meskipun sedikit. Rumusnya adalah tidak menunda pekerjaan, dan mencoba memahami materi secara mendalam, bukan sekadar menghafal. Selain itu, saya juga sering berdiskusi dan mencari referensi tambahan,” kata mahasiswi yang aktif membagi waktu antara kuliah dan organisasi melalui skala prioritas harian ini.
Orang tua sangat berperan penting bagi Mita. Ia menegaskan bahwa ayah dan ibunya adalah pilar utama yang membuatnya kokoh berdiri hingga akhir masa studi.
“Peran orang tua sangat besar. Mereka adalah sumber doa, motivasi, dan kekuatan terbesar saya. Tanpa dukungan mereka, saya tidak akan sampai di titik ini,” tuturnya penuh emosional.
Mita pun menitipkan pesan menyentuh yang ditujukan khusus untuk kedua orang tercintanya: “Terima kasih atas segala doa, pengorbanan, dan cinta yang tidak pernah putus. Semoga pencapaian ini bisa menjadi sedikit kebanggaan untuk Bapak dan Ibu. Semua ini untuk kalian.”
Ketika diminta mendeskripsikan seluruh dinamika perjalanan kuliahnya di FDK UIN Walisongo ke dalam satu kata, Mita memilih kata: “BERTUMBUH.”
Menatap masa depan pascakampus, Mita mengajak rekan-rekan seangkatannya untuk tidak lekas berpuas diri dan berani menghadapi dunia profesional. “Untuk teman-teman, selamat atas perjuangan kita semua. Ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan baru. Jangan takut melangkah, tetap rendah hati, dan terus belajar,” pungkas sang srikandi terbaik BPI tersebut.