"Laporan yang masuk, gerakan radikal berbasis keagamaan tersebut tidak hanya terbatas di kawasan perkotaan, akan tetapi sudah merambah hingga ke wilayah pedesaan," ujarnya ketika menghadiri acara silaturahim kiai se-Kabupaten Pati, di Pondok Pesantrean Darul Hidayah Desa Runting Tambaharjo, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, di Pati, Kamis.
Menurut dia, gerakan radikal tersebut berpotensi merusak tradisi yang selama ini dianut warga NU, sehingga perlu upaya menangkal paham tersebut.
Ia mengatakan, untuk menangkal paham tersebut, akidah "Ahlus Sunnah Wal Jama'ah" perlu disosialisasikan.
Selain itu, katanya, perlu pelatihan secara intensif agar generasi muda NU tidak terkontaminasi paham radikal tersebut.
Ia mengemukakan, penganut paham radikal tersebut berupaya menanamkan ideologi mereka yang diadopsi dari luar untuk ditanamkan pada generasi muda di Tanah Air.
"Sejumlah upaya dilakukan oleh penganut paham radikal tersebut, untuk menarik minat warga bergabung dengan kelompok mereka. Hal ini, tentunya patut kita waspadai bersama agar warga NU tidak ada yang bergabung dengan mereka," ujarnya.
Pemahaman Islam yang cenderung tekstual, katanya, berpotensi menyudutkan nilai-nilai lokal dan akidah yang dimiliki warga NU.
"Belum lagi, upaya paham radikal di bidang ekonomi untuk menarik minat warga NU agar bersedia bergabung dengan kelompok mereka," ujarnya.
Ia mengemukakan, untuk menangkap mereka yang berpaham radikal tersebut, dipersiapkan perlawanan terhadap kelompok-kelompok kekerasan yang kian marak dengan membentuk Laskar Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja).
Pembentukan laskar Aswaja di Kabupaten Pati pada Rabu, kata dia, menyusul kabupaten lain di Jateng yang juga dibentuk laskar serupa.
"Perlawanan yang dilakukan, bisa berbentuk teologi, wacana maupun pemikiran," ujarnya.
Ia mengharapkan, perlawanan secara elegan tersebut bisa menekan berkembangnya ideologi dari kelompok radikal yang mengatasnamakan keagamaan.
Rois Syuriah PCNU Pati Asmu'i Sadzali mengatakan, mereka yang berpaham radikal dengan mengatasnamakan agama juga berupaya mengajak warga di daerah pedesaan dengan menggunakan uang.
"Imbalannya, masjid milik warga yang selama ini dilengkapi bedug dan kentongan diminta dihilangkan. Cara-cara seperti ini harus dilawan," katanya.
Ia meminta warga NU berani membela akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah dengan menghidupkan masjid yang selama ini memiliki kebiasaan tersendiri.
Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Jateng Mulyani M. Noor mengatakan, saat ini tidak hanya paham radikal yang mengatasnamakan agama yang mulai mengancam, akan tetapi pencurian terhadap kader NU maupun ideologi juga mulai marak.
"Kita juga harus menangkal paham-paham tersebut lewat kekuatan secara institusi maupun pendidikan," ujarnya.
Untuk itu, kata dia, kader NU harus diperkenalkan buku NU agar ketika dewasa mendatang tidak bergabung dengan kelompok lain.