Temanggung (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah membentuk desa percontohan deteksi dini penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa dengan gerakan peduli kesehatan jiwa serta penyakit tidak menular (Gerdu Tawa Tinular).

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Temanggung Hesti Puspitasari di Temanggung, Rabu, mengatakan desa percontohan Gerdu Tawa Tinular tersebut di Desa Caturanom, Kecamatan Parakan.

Ia menyampaikan dalam Gerdu Tawa Tinular di Desa Caturanom tersebut melibatkan 40 kader kesehatan masyarakat. Mereka akan mendata dan memantau 804 keluarga di desa tersebut.

Baca juga: Anak dan pelajar hadapi tekanan psikososial semasa pandemi

"Seorang kader bertanggung jawab terhadap 10 hingga 20 keluarga. Jadi kader ini nanti yang mencari data pada wilayah keluarga yang menjadi tanggung jawabnya," katanya.

Ia menuturkan para kader mengajak masyarakat untuk mengenali penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa lebih dini dengan mengisi form baik luring maupun daring.

Setelah data terkumpul ditindaklanjuti oleh petugas puskesmas dan apabila ada masyarakat yang mempunyai faktor risiko penyakit tidak menular atau kesehatan jiwa maka akan dipantau.

"Pembina wilayah dan kader memantau dan memotivasi apabila ada yang terdeteksi penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa untuk rutin ke fasilitas kesehatan atau posbindu (apabila sudah mulai aktif setelah pandemi mereda, red.)," katanya

Ia berharap, melalui gerakan tersebut tidak ada peningkatan kasus kesakitan dan kematian akibat penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa di desa tersebut.

Hesti menuturkan berdasarkan hasil penelitian 80 persen angka kematian konfirmasi COVID-19 mempunyai komorbit penyakit tidak menular.

Angka kejadian penyakit tidak menular tinggi, bahkan sekarang mengalahkan yang penyakit menular, karena penyakit menular sudah ada vaksin dan obatnya.

"Selama ini data penyakit tidak menular hanya kami dapat secara pasif, orang yang ada keluhan baru datang ke puskesmas, dokter, padahal penyakit tidak menular itu tidak ada gejala awal. Jadi tiba-tiba orang meninggal mendadak tanpa ada gejala," katanya.

Ia menyampaikan melalui Gerdu Tawa Tinular maka arahnya ke deteksi dini sebelum muncul gejala sudah diketahui faktor risikonya. Selama ini sudah ada posbindu di masyarakat tetapi selama pandemi ini tidak aktif.

"Selama pandemi ini posbindu tutup karena tidak boleh ada kerumunan. Kemudian saya punya ide mengapa tidak dari masyarakat sendiri muncul kemandirian untuk mengetahui faktor risiko baik dirinya maupun keluarganya dengan memberdayakan kader kesehatan masyarakat," katanya. 

Baca juga: Unicef: Pandemi dapat perberat masalah kesehatan jiwa anak
Baca juga: Puskesmas di Banjarnegara dilengkapi alat pemindai gangguan jiwa

Pewarta : Heru Suyitno
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2024