Semarang (ANTARA) - Semua pihak diminta harus benar-benar memanfaatkan peluang yang ada untuk membantu percepatan pertumbuhan ekonomi 2021.

"Bank Dunia melihat perekonomian Indonesia masih memiliki peluang untuk tumbuh pada tahun depan, meski perekonomian dunia marak dengan catatan kontraksi. Harapan ini harus bisa direalisasikan," kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat saat membuka secara daring Forum Diskusi Denpasar 12 dengan tema Indonesia Economy Outlook (Meramu Jalan Kebangkitan Perekonomian Bangsa 2021), Rabu (23/12).

Diskusi yang dipandu Staf Khusus Wakil Ketua MPR RI Bidang Penyerapan Aspirasi Masyarakat dan Daerah, Dr. Atang Irawan, S.H., M.Hum itu, menghadirkan Enggartiasto Lukita (Menteri Perdagangan RI Periode 2016-2019), Purbaya Yudhi Sadewa (Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)),  Prof. Bustanul Arifin (Professorial Fellow at the International Center for Applied Finance and Economics of Bogor Agricultural University (InterCAFE-IPB), Shinta Witoyo Dhanuwardoyo (CEO/Founder Bubu.com & Angel Investor), Doni Kris Puriyono (Presiden Komunitas Tangan Di Atas (TDA)) dan Shanti Shamdasani (CEO S. ASEAN International Advocacy & Consultancy (SAIAC) sebagai narasumber.

Menurut Lestari, upaya yang dilakukan saat ini bertujuan agar kita mampu berdiri di tengah ketidakpastian akibat pandemi COVID-19. Selain itu, tegasnya, berbagai upaya itu juga berpeluang menciptakan harapan.

Sambil menunggu pengaplikasian vaksin COVID-19, Rerie, sapaan akrab Lestari, mengatakan berbagai pandangan para pakar di sejumlah bidang bisa memberi gambaran bagi para pelaku ekonomi untuk mengambil langkah di tahun depan.

Legislator Partai NasDem itu berharap para pelaku ekonomi bisa meningkatkan kinerjanya dengan baik, seiring dengan antisipasi yang baik terhadap kondisi ekonomi tahun depan.

Menteri Perdagangan RI Periode 2016-2019,
Enggartiasto Lukita berpendapat dalam menilai kondisi perkonomian tahun depan harus juga memperhitungkan faktor perubahan kebiasaan masyarakat.

Menurut Enggartiasto, terjadi penurunan kedatangan orang ke pasar tradisional dari sekitar 52 persen sekarang tinggal 30 persen. Di sisi lain, ujarnya, yang berbelanja secara online mengalami kenaikan dari sebelumnya 3 persen, saat ini mencapai 21 persen.

Jadi, ujar Enggartiasto, kondisi tersebut harus diantisipasi dengan kebijakan yang tepat agar peluang yang ada bisa ditangkap dan dikonversi untuk mendorong perekonomian.

"Meski begitu jangan berharap perubahan dapat berlangsung dengan cepat. Kehadiran vaksin COVID-19 tidak cukup cepat untuk mempengaruhi pertumbuhan ekonomi," jelas Enggartiasto.

Surplus ekspor Indonesia yang terjadi saat ini, menurut Enggartiasto, lebih disebabkan turunnya impor, bukan karena kinerja ekspor yang membaik. Sehingga, jelasnya, ke depan insentif pajak bisa diberikan untuk upaya-upaya produktif.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa berpendapat, stimulus fiskal yang diberikan pemerintah di masa pandemi cukup membantu Indonesia dari kontraksi perekonomian yang berlebihan.

Purbaya yakin sistem perekonomian kita masih memiliki ruang untuk tumbuh tahun depan dan bisa diupayakan memanfaatkan kekuatan sendiri dengan mendorong potensi perekonomian domestik.

Guru Besar Universitas Lampung Bustanul Arifin mengungkapkan sejumlah indikasi perekonomian domestik, seperti pengeluaran masyarakat mulai naik, sektor retail dan restoran terlihat tumbuh.

Meski belum pulih, jelas Bustanul, momentum kenaikan aktivitas ekonomi saat ini harus dipertahankan untuk terus mendorong pertumbuhan perekonomian nasional.

Bustanul memperkirakan, pada semester dua tahun depan mulai terlihat pertumbuhan ekonomi nasional seiring dengan membaiknya aktivitas sejumlah sektor ekonomi.

Sekretaris Umum Komunitas Tangan Di Atas (TDA), Wisnu Dewobroto berpendapat, usaha kecil, mikro dan menengah (UMKM) masih bisa diandalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tahun depan.

Berdasarkan pengalamannya, Wisnu mengungkapkan, kolaborasi antar pengusaha berskala UMKM bisa membuat sejumlah pengusaha mampu bertahan di masa pandemi.***

Pewarta : Zaenal
Editor : Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2024