Purwokerto (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman, Indra Permanajati mengingatkan pentingnya penguatan lereng di daerah yang rawan tanah longsor.

"Untuk mencegah longsor yang perlu disoroti adalah teknik rekayasa bangunan perumahan dan perkuatan lereng di lahan rawan longsor," katanya di Purwokerto, Kamis.

Indra yang merupakan Dosen Mitigasi Bencana Geologi, Jurusan Teknik Geologi Universitas Jenderal Soedirman menambahkan rekayasa bangunan perumahan dan perkuatan lereng di lahan rawan longsor perlu penanganan yang tepat.

Baca juga: 25 kejadian tanah longsor landa Banjarnegara sejak awal 2020

"Untuk melakukan itu memerlukan teknik rekayasa, namun hal sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan menanam pohon berakar kuat hingga mitigasi struktural seperti membuat talud atau bronjong," katanya.

Selain itu, dia mengingatkan agar masyarakat tidak menanam sayur dan padi di lahan yang miring atau rawan longsor.

"Saran kami jangan menanam padi di lereng atau lahan yang miring, hanya untuk lahan yang datar saja yang boleh menanam padi dan sayur," katanya.

Dia mengatakan, pihak pemerintah daerah dapat bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk membuat program rekayasa penguatan lereng guna mengurangi risiko tanah longsor

"Upaya mitigasi perlu segera dilakukan mengingat puncak musim hujan masih berlangsung hingga bulan Februari," katanya

Sebelumnya, dia juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana tanah longsor pada geometri lereng yang curam.

"Kondisi tanah yang berlokasi di lereng curam biasanya memiliki tingkat ketebalan yang tinggi sehingga sangat berpotensi terjadinya longsor khususnya pada musim hujan," katanya.

Dia menjelaskan hujan lebat dengan durasi yang lama dapat mengakibatkan tanah di wilayah lereng curam menjadi sangat lembek dan lunak sehingga sangat mudah untuk bergerak atau longsor.

"Sifat plastisitas tanah di lokasi yang tinggi memungkinkan tanah untuk bergerak karena pengaruh air hujan. Air akan masuk ke dalam tanah dan mengubah karakter tanah yang padat menjadi cair sehingga memungkinkan tanah untuk bergerak dan menjadi aliran tanah," katanya.

Baca juga: Tanah longsor landa enam desa di Kabupaten Kudus
Baca juga: Masyarakat Banjarnegara diminta intensifkan siskamling saat puncak musim hujan


Pewarta : Wuryanti Puspitasari
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2024