Brebes (ANTARA) - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Hasto Wardoyo berharap angka fertilitas total (total fertility rate) di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang saat ini masih mencapai 2,5 persen turun menjadi 2,1 persen.

"Oleh karena, saya berharap penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) tidak hanya digunakan untuk kegiatan pertemuan saja melainkan dapat digunakan untuk anggaran penggerakkan, mobilisasi akseptor KB agar banyak masyarakat yang dapat dimudahkan pelayanan pemasangan alat kontrasepsi," katanya di Brebes, Selasa.

Di Kabupaten Brebes, jumlah akseptor dengan menggunakan Metode Operasi Wanita (MOW) mencapai 15 persen dan keluar menggunakan alat kontrasepsi KB di bawah tujuh persen, serta TFR 2,5 persen.

"Oleh karena, kita berharap bisa bersama-sama dan kerja keras untuk menurunkan TFR sampai 2,1 persen. Saya sampaikan ucapan terima kasih kepada provider, seperti dokter, TNI, dan bidan yang terus kerja keras menyampaikan program keluarga berencana,'stunting' (kekerdilan), dan perlindungan anak," katanya.

Baca juga: Angka kelahiran di Kudus ditargetkan turun hingga dua persen

Hasto Wardoyo pada kesempatan itu menyaksikan bagaimana para akseptor mendapatkan pelayanan dari provider KB di tempat fasilitas kesehatan tersebut yang ditargetkan pada hari ini mampu melayani 200 akseptor.

Selain itu, secara simbolis dilakukan pemberian bantuan pada Bina Keluarga Balita (BKB) Kit dan sepeda motor bagi para penyuluh KB.

Ia minta pemerintah daerah melakukan pelayanan bersama, meliputi kerja sama fasilitas dan tenaga kesehatan yang melintasi garis perbatasan antarprovinsi agar warga Jateng yang berada di perbatasan dapat memperoleh pelayanan KB oleh pemerintah daerah di Jawa Barat.

"Saat ini, jumlah pernikahan usia anak di wilayah Kabupaten Brebes pun masih tinggi ditambah dengan tingginya angka kematian bayi yang menempati peringkat kedua di Jateng sehingga perlu mendapat penanganan yang serius oleh pemda setempat," katanya.

Bupati Brebes Idza Priyanti mengatakan angka kelahiran bayi di wilayah itu memang masih cukup tinggi, yaitu mencapai 36.000 orang setiap tahun dan angka kematian bayi pada 2019 mencapai 29 orang.

"Ini cukup tinggi. Oleh karena itu, melalui program KB saya yakin dapat mengurangi angka kematian ibu dan bayi. Kita harus bekerja keras dan untuk mencapai hal, saya berharap dukungan pemerintah pusat dan masyarakat," katanya.

Baca juga: BKKBN Terus Tekan Angka Kelahiran

 

Pewarta : Kutnadi
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2024