Sragen (Antaranews Jateng) - Puluhan keluarga di Dukuh Kowang, Desa Argotirto, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, mengalami kekurangan air bersih untuk minum dan masak sehari-hari.
Ngatinem (60), warga RT 03 RW 06 Dukuh Kowang Desa Argotirto Sragen, Jumat, mengatakan kekeringan dirasakan warga Desa Argotirto Sragen sejak empat bulan terakhir ini karena musim kemarau menyebabkan sumur-sumur mengering, tidak mengeluarkan air.
Menurut Ngatinem, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga harus mencari air di sumber air di desa setempat yakni di lokasi persawahan Ringin Putih dan jurang Ledokan dengan jarak sekitar 2 kilometer dari permukiman warga.
"Saya harus mengambil air dengan jeriken dan ember ke sumber air Ringin Putih yang jauhnya sekitar 2 km dari permukiman," kata Ngatinem.
Menurut dia, dua jeriken air masing-masing isi 40 liter cukup untuk memasak dan minum per hari, sedangkan mandi dan cuci pakain harus mencari lagi. Warga yang mampu biasanya bisa membeli air isi 500 liter seharga Rp50.000.
Namun, untuk warga yang tidak mampu, mereka harus mengambil air di tempat sumber air yang cukup jauh.
Doto (60), warga lain, mengatakan dampak kekeringan menyebabkan warga kekuarang air bersih terutama di Desa Argitirto. Warga merasakan kekuarangan air sejak Mei dan sekarang puncaknya.
"Saya memiliki tiga sapi yang butuh minum setiap air, dan anggota keluarga juga sama, sehingga kebutuhan air harus terpenuhi untuk minum dan masak," kata Doto.
Menurut dia, jika sedang ada rezeki bisa membeli air bersih sebanyak 500 liter dengan harga Rp50.000. Air ini dapat memenuhi kebutuhan hingga satu minggu ke depan.
Ketua RT 03 Dukuh Kowang Desa Argotirto, Rusyanto, mengatakan, di Dukuh Kowang ada sebanyak 50 KK dan daerah ini memang terparah kekurangan air dibanding dukuh lainnya di Desa Argotirto.
"Warga yang mampu bisa membeli air, sedangkan yang tidak mampu mengharapkan bantuan air dari pemerintah atau instansi lainnya yang peduli," kata Rusyanto.
Menurut dia bencana kekeringan di Desa Argotirto ini, sudah menjadi langganan setiap tahun jika musim kemarau tiba. Berbagai upaya sudah dilakukan, antara lain membuat sumur dalam hingga kedalaman 100 meter, tetapi tidak keluar airnya.
Menurut Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sragen Sugeng Priyono, ada tujuh kecamatan di Sragen yang rawan kekeringan. Kebutuhan air bersih di sejumlah titik meningkat akibat musim kemarau, sejak menjelang Lebaran hingga sekarang.
Tujuh kecamatan yang masuk rawan kekeringan di Sragen, kata dia, antara lain Tangen, Jenar, Mondokan, Sukodono, Sumberlawang, dan Tanon. Pihaknya sudah melakukan langkah antisipasi terkait kekeringan yang hampir selalu terjadi di musim kemarau.
"Kami mengalokasikan anggaran Rp44.500.000 untuk persediaan air bersih untuk didistrubusikan ke masyarakat yang membutuhkan," katanya.
Ngatinem (60), warga RT 03 RW 06 Dukuh Kowang Desa Argotirto Sragen, Jumat, mengatakan kekeringan dirasakan warga Desa Argotirto Sragen sejak empat bulan terakhir ini karena musim kemarau menyebabkan sumur-sumur mengering, tidak mengeluarkan air.
Menurut Ngatinem, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga harus mencari air di sumber air di desa setempat yakni di lokasi persawahan Ringin Putih dan jurang Ledokan dengan jarak sekitar 2 kilometer dari permukiman warga.
"Saya harus mengambil air dengan jeriken dan ember ke sumber air Ringin Putih yang jauhnya sekitar 2 km dari permukiman," kata Ngatinem.
Menurut dia, dua jeriken air masing-masing isi 40 liter cukup untuk memasak dan minum per hari, sedangkan mandi dan cuci pakain harus mencari lagi. Warga yang mampu biasanya bisa membeli air isi 500 liter seharga Rp50.000.
Namun, untuk warga yang tidak mampu, mereka harus mengambil air di tempat sumber air yang cukup jauh.
Doto (60), warga lain, mengatakan dampak kekeringan menyebabkan warga kekuarang air bersih terutama di Desa Argitirto. Warga merasakan kekuarangan air sejak Mei dan sekarang puncaknya.
"Saya memiliki tiga sapi yang butuh minum setiap air, dan anggota keluarga juga sama, sehingga kebutuhan air harus terpenuhi untuk minum dan masak," kata Doto.
Menurut dia, jika sedang ada rezeki bisa membeli air bersih sebanyak 500 liter dengan harga Rp50.000. Air ini dapat memenuhi kebutuhan hingga satu minggu ke depan.
Ketua RT 03 Dukuh Kowang Desa Argotirto, Rusyanto, mengatakan, di Dukuh Kowang ada sebanyak 50 KK dan daerah ini memang terparah kekurangan air dibanding dukuh lainnya di Desa Argotirto.
"Warga yang mampu bisa membeli air, sedangkan yang tidak mampu mengharapkan bantuan air dari pemerintah atau instansi lainnya yang peduli," kata Rusyanto.
Menurut dia bencana kekeringan di Desa Argotirto ini, sudah menjadi langganan setiap tahun jika musim kemarau tiba. Berbagai upaya sudah dilakukan, antara lain membuat sumur dalam hingga kedalaman 100 meter, tetapi tidak keluar airnya.
Menurut Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sragen Sugeng Priyono, ada tujuh kecamatan di Sragen yang rawan kekeringan. Kebutuhan air bersih di sejumlah titik meningkat akibat musim kemarau, sejak menjelang Lebaran hingga sekarang.
Tujuh kecamatan yang masuk rawan kekeringan di Sragen, kata dia, antara lain Tangen, Jenar, Mondokan, Sukodono, Sumberlawang, dan Tanon. Pihaknya sudah melakukan langkah antisipasi terkait kekeringan yang hampir selalu terjadi di musim kemarau.
"Kami mengalokasikan anggaran Rp44.500.000 untuk persediaan air bersih untuk didistrubusikan ke masyarakat yang membutuhkan," katanya.