Merapi tertutup kabut petugas tetap waspada
Sabtu, 26 Mei 2018 11:27 WIB
Ilustrasi - Pos pengamatan Gunung Merapi di Ngepos, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. (Foto: Hari Atmoko)
Magelang (Antaranews Jateng) - Kawasan puncak Gunung Merapi selama dua hari terakhir tertutup kabut sehingga tidak bisa teramati secara visual, sedangkan para petugas pengamat di sejumlah pos tetap waspada dengan mengandalkan pemantauan melalui berbagai perangkat.
"Tidak nampak secara visual karena tertutup kabut, sejak kemarin (25/5) siang sampai pagi ini (sekitar pukul 10.30 WIB)," kata petugas pengamat Gunung Merapi di Pos Ngepos Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Heru Suparwoko di Magelang, Sabtu.
Ia menyebut berdasarkan pengamatan melalui perangkat di pos setempat yang berjarak sekitar 11 kilometer barat daya puncak Gunung Merapi, aktivitas kegempaan minim dan tidak terjadi letusan sebagaimana beberapa hari terakhir.
Status aktivitas Gunung Merapi hingga saat ini "waspada" sejak dinaikkan dari "normal" oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi Yogyakarta pada Senin (21/5) menjelang tengah malam, setelah terjadi beberapa kali letusan freatik sejak Jumat (11/5).
"Rekomendasinya masih sama, `waspada`. Kita selalu waspada suatu saat kemungkinan yang terjadi terulang lagi," katanya.
Masyarakat sekitar Pos Ngepos Srumbung pada Sabtu pagi juga beraktivitas secara normal meskipun tetap diminta waspada terhadap kemungkinan perkembangan aktivitas Gunung Merapi.
Petugas pengamat Gunung Merapi di Pos Jrakah Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Yulianto juga mengatakan, sejak Jumat (25/5) puncak Gunung Merapi tertutup kabut cukup tebal sehingga tidak bisa dipantau secara visual.
"Sejak kemarin (25/5) tertutup kabut tebal. Kami tetap waspada," katanya.
Akan tetapi, ujar dia, pada Sabtu sekitar pukul 05.00-08.00 WIB kawasan puncak Gunung Merapi terlihat secara visual namun asap sulvatara tidak teramati.
Ia menyebut hasil pengamatan secara seismik sebagai "landai"
Hampir setiap hari, ujarnya, sejumlah warga mendatangi Pos Jrakah untuk menanyakan secara langsung kepada petugas tentang perkembangan aktivitas Gunung Merapi.
"Setiap hari ada warga datang, ada juga dari komunitas atau tim relawan, tim siaga desa. Mereka menanyakan aktivitas Merapi terkini dan berkoordinasi," ujarnya.
Petugas pengamat Gunung Merapi di Pos Babadan Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang Triyono juga mengatakan bahwa kawasan puncak gunung berapi yang pada 2010 mengalami letusan eksplosif itu, sejak Jumat (25/5) hingga Sabtu pagi tertutup kabut tebal.
Ia mengaku bersama petugas lain tetap meningkatkan kewaspadaan terkait dengan perkembangan aktivitas Gunung Merapi akhir-akhir ini.
"Sama, dari Pos Babadan ini puncak Merapi juga tertutup kabut," katanya.
Di Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang sejak Jumat (25/5) malam hingga Sabtu pagi, tidak tampak secara visual Gunung Merapi karena kawasan setempat tertutup kabut tebal.
Pada Sabtu sekitar pukul 07.00 WIB turun hujan gerimis selama beberapa saat di kawasan itu, sedangkan aktivitas masyarakat setempat normal meskipun tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan terjadinya peningkatan aktivitas Merapi.
"Tidak nampak secara visual karena tertutup kabut, sejak kemarin (25/5) siang sampai pagi ini (sekitar pukul 10.30 WIB)," kata petugas pengamat Gunung Merapi di Pos Ngepos Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Heru Suparwoko di Magelang, Sabtu.
Ia menyebut berdasarkan pengamatan melalui perangkat di pos setempat yang berjarak sekitar 11 kilometer barat daya puncak Gunung Merapi, aktivitas kegempaan minim dan tidak terjadi letusan sebagaimana beberapa hari terakhir.
Status aktivitas Gunung Merapi hingga saat ini "waspada" sejak dinaikkan dari "normal" oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi Yogyakarta pada Senin (21/5) menjelang tengah malam, setelah terjadi beberapa kali letusan freatik sejak Jumat (11/5).
"Rekomendasinya masih sama, `waspada`. Kita selalu waspada suatu saat kemungkinan yang terjadi terulang lagi," katanya.
Masyarakat sekitar Pos Ngepos Srumbung pada Sabtu pagi juga beraktivitas secara normal meskipun tetap diminta waspada terhadap kemungkinan perkembangan aktivitas Gunung Merapi.
Petugas pengamat Gunung Merapi di Pos Jrakah Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Yulianto juga mengatakan, sejak Jumat (25/5) puncak Gunung Merapi tertutup kabut cukup tebal sehingga tidak bisa dipantau secara visual.
"Sejak kemarin (25/5) tertutup kabut tebal. Kami tetap waspada," katanya.
Akan tetapi, ujar dia, pada Sabtu sekitar pukul 05.00-08.00 WIB kawasan puncak Gunung Merapi terlihat secara visual namun asap sulvatara tidak teramati.
Ia menyebut hasil pengamatan secara seismik sebagai "landai"
Hampir setiap hari, ujarnya, sejumlah warga mendatangi Pos Jrakah untuk menanyakan secara langsung kepada petugas tentang perkembangan aktivitas Gunung Merapi.
"Setiap hari ada warga datang, ada juga dari komunitas atau tim relawan, tim siaga desa. Mereka menanyakan aktivitas Merapi terkini dan berkoordinasi," ujarnya.
Petugas pengamat Gunung Merapi di Pos Babadan Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang Triyono juga mengatakan bahwa kawasan puncak gunung berapi yang pada 2010 mengalami letusan eksplosif itu, sejak Jumat (25/5) hingga Sabtu pagi tertutup kabut tebal.
Ia mengaku bersama petugas lain tetap meningkatkan kewaspadaan terkait dengan perkembangan aktivitas Gunung Merapi akhir-akhir ini.
"Sama, dari Pos Babadan ini puncak Merapi juga tertutup kabut," katanya.
Di Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang sejak Jumat (25/5) malam hingga Sabtu pagi, tidak tampak secara visual Gunung Merapi karena kawasan setempat tertutup kabut tebal.
Pada Sabtu sekitar pukul 07.00 WIB turun hujan gerimis selama beberapa saat di kawasan itu, sedangkan aktivitas masyarakat setempat normal meskipun tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan terjadinya peningkatan aktivitas Merapi.
Pewarta : M. Hari Atmoko
Editor : Mugiyanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Hujan abu tipis letusan Gunung Merapi terjadi di Sawangan dan Dukun
09 November 2019 11:55 WIB, 2019
BPBD Boyolali bentuk desa bersaudara demi kurangi risiko letusan Merapi
07 January 2019 18:08 WIB, 2019
Terpopuler - Bencana Alam
Lihat Juga
Pati mulai kaji peningkatan status kekeringan untuk optimalkan penanganan
09 September 2026 15:44 WIB
PMI Cilacap salurkan bantuan tandon air untuk warga terdampak kekeringan
08 September 2026 16:29 WIB
BPBD Cilacap perkuat distribusi air bersih bagi warga terdampak kekeringan
08 September 2026 14:10 WIB