Magelang, ANTARA JATENG - Kawasan penambangan galian golongan C di daerah Bego Pendem aliran Sungai Bebeng, Desa Kaliurang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, hampir setiap tahun terjadi longsor, kata tokoh masyarakat Kaliurang, Suharno.
"Kawasan penambangan ini rawan longsor, hampir setiap tahun terjadi longsor dan menelan korban," kata mantan Kades Kaliurang ini di Magelang, Senin.
Seperti diwartakan delapan korban ditemukan tewas dan delapan orang korban selamat mengalami luka-luka pada kejadian longsor di kawasan penambangan itu. Pada kejadian tersebut, tebing setinggi sekitar 30 meter dan panjang 30 meter longsor menimpa para penambang.
Suharno yang juga mantan anggota DPRD Kabupaten Magelang ini menuturkan para korban adalah para penambang yang setiap hari mencari nafkah dengan menambang pasir di kawasan Merapi di Desa Kaliurang.
Ia menyebutkan para penambang tidak hanya datang dari Kabupaten Magelang saja, tetapi juga dari Temanggung, Wonosobo, dan Sleman. Jumlah penambang di kawasan ini sekitar 400 hingga 500 orang.
Ia mengatakan bahwa korban longsor kali ini cukup banyak, delapan orang meninggal dan delapan lainnya mengalami luka-luka yang kini mendapat perawatan di RSUD Muntilan Kabupaten Magelang.
Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Magelang, Didik Wahyu Nugroho mengatakan lokasi penambangan ini merupakan daerah rawan longsor.
"Potensi tebing longsor sangat tinggi, apalagi ditambah dengan adanya kegiatan penambangan di lokasi ini sehingga risikonya cukup besar," katanya.
Ia menuturkan bahwa pencarian korban longsor sementara dihentikan pada pukul 17.00 WIB karena cuaca memang tidak memungkinkan.
"Namun, jika malam ini masih ada laporan orang hilang yang diduga terkait dengan kejadian longsor ini maka, Selasa (19/12) pagi akan dilakukan pencarian lagi," katanya.
"Kawasan penambangan ini rawan longsor, hampir setiap tahun terjadi longsor dan menelan korban," kata mantan Kades Kaliurang ini di Magelang, Senin.
Seperti diwartakan delapan korban ditemukan tewas dan delapan orang korban selamat mengalami luka-luka pada kejadian longsor di kawasan penambangan itu. Pada kejadian tersebut, tebing setinggi sekitar 30 meter dan panjang 30 meter longsor menimpa para penambang.
Suharno yang juga mantan anggota DPRD Kabupaten Magelang ini menuturkan para korban adalah para penambang yang setiap hari mencari nafkah dengan menambang pasir di kawasan Merapi di Desa Kaliurang.
Ia menyebutkan para penambang tidak hanya datang dari Kabupaten Magelang saja, tetapi juga dari Temanggung, Wonosobo, dan Sleman. Jumlah penambang di kawasan ini sekitar 400 hingga 500 orang.
Ia mengatakan bahwa korban longsor kali ini cukup banyak, delapan orang meninggal dan delapan lainnya mengalami luka-luka yang kini mendapat perawatan di RSUD Muntilan Kabupaten Magelang.
Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Magelang, Didik Wahyu Nugroho mengatakan lokasi penambangan ini merupakan daerah rawan longsor.
"Potensi tebing longsor sangat tinggi, apalagi ditambah dengan adanya kegiatan penambangan di lokasi ini sehingga risikonya cukup besar," katanya.
Ia menuturkan bahwa pencarian korban longsor sementara dihentikan pada pukul 17.00 WIB karena cuaca memang tidak memungkinkan.
"Namun, jika malam ini masih ada laporan orang hilang yang diduga terkait dengan kejadian longsor ini maka, Selasa (19/12) pagi akan dilakukan pencarian lagi," katanya.