Petani Minta Pabrik Rokok Beli Tembakau Sesuai Kualitas
Senin, 4 September 2017 20:38 WIB
Seorang petani menjemur tembakau di sekitar Jembatan Sigandul, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung.(Foto: ANTARAJATENG.COM/ Heru Suyitno)
Temanggung, ANTARA JATENG- Petani tembakau di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, meminta pabrikan membeli tembakau dengan harga sesuai kualitas agar petani tidak merugi
Petani yang juga pedagang tembakau, Ibnu Malik, di Temanggung, Senin, mengatakan hasil panen tembakau tahun ini kualitasnya jauh lebih baik dibanding panen tahun lalu.
Ia mengatakan membaiknya kualitas tembakau tersebut harus diikuti dengan harga yang lebih baik juga.
Apalagi bagi petani yang ikut pola kemitraan dengan PT Djarum, katanya, mereka sudah mengikuti pola tanam sesuai dengan standardisasi pabrikan sehingga kualitas tembakau yang dihasilkan jauh lebih bagus dari petani yang tidak ikut dalam pola kemitraan.
Ia menuturkan dengan mengikuti pola kemitraan, petani harus mengeluarkan modal yang lebih banyak, karena ada perbedaan yang cukup jauh antara pola tanam kemitraan dengan pola tanam yang dilakukan petani.
"Mulai dari pembibitan, jenis bibit, jenis pupuk, pemupukan hingga pascapanen. Pengolahannya butuh modal yang cukup besar, maka harga pembelian dari pabrikan jangan sampai merugikan petani yang sudah mengeluarkan biaya besar," katanya.
Ia menyebutkan dalam pola kemitraan petani harus menggunakan pupuk jenis fertila yang harganya mencapai Rp950 ribu per kuintal, pupuk KNO3 Rp1,3 juta per kuintal, dan masih banyak yang lainnya yang harganya lebih mahal.
"Petani yang tergabung dalam kemitraan meminta agar pabrikan PT Djarum membeli tembakau dari petani kemitraan dengan harga yang lebih tinggi, minimal per grade Rp35 ribu per kilogram," katanya.
Ia mengatakan PT Djarum sudah melakukan pembelian tembakau, namun harganya masih jauh dari harapan petani. Tembakau grade C hanya dibeli Rp50 ribu per kilogram, padahal di pabrikan lainnya harganya sudah jauh di atas harga tersebut.
"Hal ini bisa menjadi masalah, petani yang ikut pola kemitraan PT Djarum bisa menjual tembakaunya ke pabrikan lainnya," katanya.
Ia berharap PT Djarum bisa mempertimbangkan jerih parah petani dengan membeli tembakau dengan harga yang lebih tinggi, karena selama ini petani sudah menuruti semua keinginan pabrikan.
Petani yang juga pedagang tembakau, Ibnu Malik, di Temanggung, Senin, mengatakan hasil panen tembakau tahun ini kualitasnya jauh lebih baik dibanding panen tahun lalu.
Ia mengatakan membaiknya kualitas tembakau tersebut harus diikuti dengan harga yang lebih baik juga.
Apalagi bagi petani yang ikut pola kemitraan dengan PT Djarum, katanya, mereka sudah mengikuti pola tanam sesuai dengan standardisasi pabrikan sehingga kualitas tembakau yang dihasilkan jauh lebih bagus dari petani yang tidak ikut dalam pola kemitraan.
Ia menuturkan dengan mengikuti pola kemitraan, petani harus mengeluarkan modal yang lebih banyak, karena ada perbedaan yang cukup jauh antara pola tanam kemitraan dengan pola tanam yang dilakukan petani.
"Mulai dari pembibitan, jenis bibit, jenis pupuk, pemupukan hingga pascapanen. Pengolahannya butuh modal yang cukup besar, maka harga pembelian dari pabrikan jangan sampai merugikan petani yang sudah mengeluarkan biaya besar," katanya.
Ia menyebutkan dalam pola kemitraan petani harus menggunakan pupuk jenis fertila yang harganya mencapai Rp950 ribu per kuintal, pupuk KNO3 Rp1,3 juta per kuintal, dan masih banyak yang lainnya yang harganya lebih mahal.
"Petani yang tergabung dalam kemitraan meminta agar pabrikan PT Djarum membeli tembakau dari petani kemitraan dengan harga yang lebih tinggi, minimal per grade Rp35 ribu per kilogram," katanya.
Ia mengatakan PT Djarum sudah melakukan pembelian tembakau, namun harganya masih jauh dari harapan petani. Tembakau grade C hanya dibeli Rp50 ribu per kilogram, padahal di pabrikan lainnya harganya sudah jauh di atas harga tersebut.
"Hal ini bisa menjadi masalah, petani yang ikut pola kemitraan PT Djarum bisa menjual tembakaunya ke pabrikan lainnya," katanya.
Ia berharap PT Djarum bisa mempertimbangkan jerih parah petani dengan membeli tembakau dengan harga yang lebih tinggi, karena selama ini petani sudah menuruti semua keinginan pabrikan.
Pewarta : Heru Suyitno
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Prosesi manten tembakau, ritual petani di lereng Gunung Sumbing sambut musim tembakau
29 July 2025 14:59 WIB
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Pemkab Klaten siapkan hadiah uang tunai puluhan juta pada Lomba Logo Hari Jadi ke-222
05 May 2026 13:35 WIB