Data 1 Miliar Pengguna Yahoo Dibobol Hacker
Jumat, 16 Desember 2016 6:53 WIB
Logo Yahoo pada salah satu kantor Yahoo Inc di Amerika Serikat (Reuters)
Jakarta, Antara Jateng - Rabu lalu waktu AS, Yahoo Inc yang berbasis di Sunnyvale, California, mengakui ada serangan siber pada 2013 yang telah membobol data milik sekitar 1 miliar pengguna Yahoo. Ini adalah pembobolan data terbesar dalam sejarah.
September silam Yahoo sudah mengakui ada pembobolan data lainnya yang berdampak pada sekitar 500 juta akun Yahoo, yang diyakini Yahoo dilancarkan oleh berbagai hacker. Akibatnya Kamis waktu AS harga saham Yahoo anjlok 4,7 persen pada 39,00 dolar AS.
Gedung Putih kemudian mengatakan FBI tengah menyelidiki pembobolan data Yahoo itu, sedangkan beberapa gugatan hukum dilayangkan ke pengadilan atas nama pemilik saham Yahoo menyusul pembobolan data itu.
Pembobolan data terakhir itu mengundang kritik luas dari pakar keamanan siber yang beberapa di antaranya menyarankan para pemilik akun Yahoo untuk menutup akun mereka.
"Yahoo dalam banyak hal telah mengabaikan keamanan sehingga saya harus merekomendasikan jika Anda memiliki akun email Yahoo yang aktif atau langsung ke Yahoo lewat mitra seperti AT&T. maka tutup saja," kata Stu Sjouwerman, kepala eksekutif keamanan siber perusahaan KnowBe4 Inc.
Pihak berwenang keamanan siber Jerman, Badan Keamanan Informasi (BSI), menyarankan para pengguna Yahoo di Jerman untuk mempertimbangkan pindah ke akun email alternatif yang aman. BSI juga mengkritik Yahoo karena tidak mengadopsi teknik enkripsi modern untuk melindungi data pribadi pengguna.
"Dengan mempertimbangkan terulangnya kasus pencurian data, para pengguna harus lebih awas lagi terhadap layanan mana yang mereka ingin gunakan pada masa mendatang dan keamanan mesti menjadi bagian dalam keputusan itu," kata Presiden BSI Arne Schoenbohm.
September silam Yahoo sudah mengakui ada pembobolan data lainnya yang berdampak pada sekitar 500 juta akun Yahoo, yang diyakini Yahoo dilancarkan oleh berbagai hacker. Akibatnya Kamis waktu AS harga saham Yahoo anjlok 4,7 persen pada 39,00 dolar AS.
Gedung Putih kemudian mengatakan FBI tengah menyelidiki pembobolan data Yahoo itu, sedangkan beberapa gugatan hukum dilayangkan ke pengadilan atas nama pemilik saham Yahoo menyusul pembobolan data itu.
Pembobolan data terakhir itu mengundang kritik luas dari pakar keamanan siber yang beberapa di antaranya menyarankan para pemilik akun Yahoo untuk menutup akun mereka.
"Yahoo dalam banyak hal telah mengabaikan keamanan sehingga saya harus merekomendasikan jika Anda memiliki akun email Yahoo yang aktif atau langsung ke Yahoo lewat mitra seperti AT&T. maka tutup saja," kata Stu Sjouwerman, kepala eksekutif keamanan siber perusahaan KnowBe4 Inc.
Pihak berwenang keamanan siber Jerman, Badan Keamanan Informasi (BSI), menyarankan para pengguna Yahoo di Jerman untuk mempertimbangkan pindah ke akun email alternatif yang aman. BSI juga mengkritik Yahoo karena tidak mengadopsi teknik enkripsi modern untuk melindungi data pribadi pengguna.
"Dengan mempertimbangkan terulangnya kasus pencurian data, para pengguna harus lebih awas lagi terhadap layanan mana yang mereka ingin gunakan pada masa mendatang dan keamanan mesti menjadi bagian dalam keputusan itu," kata Presiden BSI Arne Schoenbohm.
Pewarta : Antaranews
Editor : Mugiyanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Sambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI, PLN tegaskan kesiapan dukung era kendaraan listrik
04 August 2026 20:19 WIB
Tim PKM-KC UMS inisiasi NECIS, alat penghancur limbah jarum suntik berbasis IOT
31 July 2026 17:39 WIB
PTI UMS gelar pameran proyek IoT, mahasiswa tampilkan inovasi teknologi otomasi
13 June 2026 18:42 WIB
Hemat limbah pembangunan, mahasiswa UMS raih prestasi National Tender Competition
24 May 2026 15:02 WIB
Inovasi sampo antiketombe berbasis jeruk nipis, tim UMS raih Silver Medal JISF 2026
02 May 2026 14:40 WIB
Terpopuler - IT
Lihat Juga
PTI UMS gelar pameran proyek IoT, mahasiswa tampilkan inovasi teknologi otomasi
13 June 2026 18:42 WIB
Wamenag tekankan tanggung jawab moral manusia atas kecerdasan buatan di ICIMS 2026 UMS
10 February 2026 17:55 WIB
Dosen UMS soroti risiko dan standar perlindungan data pada registrasi SIM berbasis face recognition
07 February 2026 18:58 WIB