Kalla: Memberantas Separatis di Filipina Selatan lebih Sulit daripada Aceh
Rabu, 31 Agustus 2016 12:11 WIB
Wakil Presiden, Jusuf Kalla (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)
Jakarta Antara Jateng - Wakil Presiden HM Jusuf Kalla beberapa tahun yang lalu pernah dimintai saran oleh Gloria Macapagal Arroyo yang saat itu masih menjabat Presiden Filipina untuk mengatasi konflik yang terjadi di Filipina Selatan.
"Saya pernah dimintai advis oleh Arroyo. Lalu saya tanya berapa senjata yang ada di masyarakat sipil. Dijawab, satu juta. Wah ini susah," katanya saat memberikan kuliah umum kepada para peserta kursus Lembaga Ketahanan Nasional di Istana Wakil Presiden di Jakarta, Selasa.
Permintaan yang diajukan oleh Presiden Filipina periode 2001-2010 itu dilatarbelakangi oleh pengalaman Kalla dalam menyelesaikan konflik di beberapa wilayah di Indonesia.
"Di Aceh jumlah senjata yang dipegang masyarakat sipil pada saat itu cuma dua ribu," kata Wapres menyampaikan alasan memberantas separatisme di Filipina Selatan jauh lebih sulit daripada di Aceh.
Dalam kesempatan tersebut Kalla juga mendapat pertanyaan dari seorang peserta kursus Lemhannas berpangkat jenderal bintang satu Angkatan Darat Malaysia mengenai kelompok bersenjata pimpinan Abu Sayyaf di Filipina Selatan yang menyandera beberapa warga asing, termasuk dari Indonesia dan Malaysia.
"Masalah di Filipina Selatan, terutama Abu Sayyaf, harus kita hadapi bersama karena masalah kita bersama. Indonesia tiga kali jadi korban. Sekarang masih ada delapan sandera. Saya kira Malaysia juga," jawab Wapres.
Menurut dia, Indonesia bersama Malaysia dan Filipina harus melakukan patroli laut secara rutin. Bahkan, kalau perlu setiap kapal yang melintasi perairan di sekitar wilayah basis Abu Sayyaf harus dikawal kapal militer.
Kalla pun memandang bahwa teror yang dilakukan Abu Sayyaf dan kawan-kawan berlatar belakang bisnis, bukan ideologi seperti di beberapa negara lain.
"Tapi bagaimana pun kita harus tegas. Filipina sendiri juga susah karena kesulitan mendapatkan batu bara dari Indonesia," ujarnya menambahkan.
Kuliah umum tersebut diikuti oleh 213 orang yang berasal dari para pejabat eselon I pusat dan daerah, perwira menengah TNI/Polri, pejabat perusahaan swasta, pengurus partai politik, dan tokoh masyarakat.
Di antara jumlah tersebut terdapat beberapa peserta yang berasal dari Yordania, Sri Lanka, Mali, Madagaskar, Pakistan, Malaysia, Thailand, Singapura, Kamboja, Brunei, Timor Leste, dan Papua Nugini.
"Saya pernah dimintai advis oleh Arroyo. Lalu saya tanya berapa senjata yang ada di masyarakat sipil. Dijawab, satu juta. Wah ini susah," katanya saat memberikan kuliah umum kepada para peserta kursus Lembaga Ketahanan Nasional di Istana Wakil Presiden di Jakarta, Selasa.
Permintaan yang diajukan oleh Presiden Filipina periode 2001-2010 itu dilatarbelakangi oleh pengalaman Kalla dalam menyelesaikan konflik di beberapa wilayah di Indonesia.
"Di Aceh jumlah senjata yang dipegang masyarakat sipil pada saat itu cuma dua ribu," kata Wapres menyampaikan alasan memberantas separatisme di Filipina Selatan jauh lebih sulit daripada di Aceh.
Dalam kesempatan tersebut Kalla juga mendapat pertanyaan dari seorang peserta kursus Lemhannas berpangkat jenderal bintang satu Angkatan Darat Malaysia mengenai kelompok bersenjata pimpinan Abu Sayyaf di Filipina Selatan yang menyandera beberapa warga asing, termasuk dari Indonesia dan Malaysia.
"Masalah di Filipina Selatan, terutama Abu Sayyaf, harus kita hadapi bersama karena masalah kita bersama. Indonesia tiga kali jadi korban. Sekarang masih ada delapan sandera. Saya kira Malaysia juga," jawab Wapres.
Menurut dia, Indonesia bersama Malaysia dan Filipina harus melakukan patroli laut secara rutin. Bahkan, kalau perlu setiap kapal yang melintasi perairan di sekitar wilayah basis Abu Sayyaf harus dikawal kapal militer.
Kalla pun memandang bahwa teror yang dilakukan Abu Sayyaf dan kawan-kawan berlatar belakang bisnis, bukan ideologi seperti di beberapa negara lain.
"Tapi bagaimana pun kita harus tegas. Filipina sendiri juga susah karena kesulitan mendapatkan batu bara dari Indonesia," ujarnya menambahkan.
Kuliah umum tersebut diikuti oleh 213 orang yang berasal dari para pejabat eselon I pusat dan daerah, perwira menengah TNI/Polri, pejabat perusahaan swasta, pengurus partai politik, dan tokoh masyarakat.
Di antara jumlah tersebut terdapat beberapa peserta yang berasal dari Yordania, Sri Lanka, Mali, Madagaskar, Pakistan, Malaysia, Thailand, Singapura, Kamboja, Brunei, Timor Leste, dan Papua Nugini.
Pewarta : Antaranews
Editor : Totok Marwoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pegawai KPK Kumpulan Orang-Orang yang Berjuang Memberantas Korupsi, kata Novel
16 August 2017 11:22 WIB, 2017
Suhardi: Upaya Memberantas Terorisme harus Paripurna agar Dampaknya Besar
23 March 2017 12:43 WIB, 2017
Samad Berpesan KPK tidak Boleh Takut dan Kendor dalam Memberantas Korupsi
21 November 2015 9:08 WIB, 2015
Ketua DPR Harap Ketiga Lembaga Penegak Hukum Harmonis dalam Memberantas Korupsi
05 May 2015 16:35 WIB, 2015
Terpopuler - Politik dan Hankam
Lihat Juga
Zulkifli Hasan Berharap Jakarta Kembali Tenang dan Damai Setelah Pilkada
02 February 2017 6:50 WIB, 2017
Agus: Saya hanya Sampaikan "Salam Hormat" ke Pak Maruf dan Pengurus PBNU
01 February 2017 19:04 WIB, 2017
" Presiden Jokowi Ingin Bertemu Saya, Tapi Dilarang Dua-Tiga di Sekeliling Beliau," Kata SBY
01 February 2017 18:35 WIB, 2017
Tim Anies-Sandi: Kegiatan PT MWS pada Masyarakat Tentang Reklamasi Pulau G Memaksakan Ambisi
01 February 2017 17:17 WIB, 2017
Setnov: NU Salalu Hadir sebagai Organisasi yang Suarakan Perdamaian dan Kesejukan
01 February 2017 16:41 WIB, 2017
Ahok Menyayangkan ada Pihak yang Mengadu Domba bahwa Dia Menghina Integritas PBNU
01 February 2017 16:12 WIB, 2017
Din: Tudingan Ahok Terhadap Maruf Bernada Sarkastik dan Sangat Menghina
01 February 2017 15:58 WIB, 2017
SBY perlu Klarifikasi Pernyataan Kuasa Hukum Ahok yang Mengkaitkan Fatwa MUI
01 February 2017 14:56 WIB, 2017