Menristekdikti: Indonesia harus Segera Bangun PLTN
Rabu, 25 Mei 2016 7:17 WIB
Menristekdikti Mohamad Nasir (ANTARA FOTO/Yusran Uccang)
Jakarta, Antara Jateng - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menegaskan bahwa Indonesia harus segera membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk pengembangan energi guna memenuhi kebutuhan energi 60 ribu megawatt pada 2025.
"Nuclear powerplant harus menjadi pertimbangan yang sangat tinggi," kata Nasir di Jakarta, Selasa.
Nasir menjelaskan pergeseran tren sumber daya energi yang digunakan oleh negara-negara di seluruh dunia mulai beralih dari minyak dan batu bara menjadi energi baru terbarukan termasuk nuklir.
Dia menjabarkan bagaimana negara Eropa seperti Prancis yang memanfaatkan PLTN sebagai sumber energi, dan bahkan diekspor ke negara lain. Lebih lagi, Jerman yang menutup diri akan pembangunan PLTN tetap menggunakan energi dari hasil PLTN yang diimpor dari Prancis.
Di Timur Tengah, lanjut Nasir, Uni Emirat Arab juga tengah membangun empat PLTN yang akan selesai setiap tahun mulai 2017 hingga 2020.
Nasir yang berbincang dengan Menteri Energi Uni Emirat Arab saat peringatan Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun lalu menjelaskan bahwa negara dengan penghasil minyak nomor tiga di dunia tersebut akan mengalihkan produksi energi dari minyak ke nuklir.
"Nuklir adalah masa depan kami, minyak untuk anak dan cucu kami," kata Nasir menirukan jawaban menteri energi Uni Emirat Arab ketika ditanya mengapa menggunakan nuklir.
Arab Saudi yang mengalami defisit anggaran karena harga minyak dunia yang anjlok pun telah memproklamirkan penggunaan tenaga nuklir sebagai pengganti minyak di tahun 2020.
Sementara di Asia, lanjut Nasir, selain Jepang yang sudah lama memiliki PLTN negara tetangga Indonesia yakni Malaysia juga sudah berkomitmen akan membangun reaktor nuklir.
"Negara tetangga kita melihat apabila 2018-2019 Indonesia tidak membangun, dia akan membangun nuclear powerplant di Serawak," kata Nasir.
Dia menjelaskan apabila pertimbangan Indonesia tidak membangun PLTN dikarenakan keselamatan dan keamanan, pertimbangan tersebut akan percuma karena Malaysia akan membangun tenaga nuklir di wilayah yang dekat dengan Indonesia.
"Pertanyaan kalau risiko terjadi bencana siapa yang kena duluan? Kita (Indonesia)," kata Nasir.
Namun dia berkali-kali menekankan bahwa pembangunan PLTN sangat aman dan sangat terkendalikan. Selain itu produksi energi dari PLTN bisa menekan biaya karena sangat murah.
"Nuclear powerplant harus menjadi pertimbangan yang sangat tinggi," kata Nasir di Jakarta, Selasa.
Nasir menjelaskan pergeseran tren sumber daya energi yang digunakan oleh negara-negara di seluruh dunia mulai beralih dari minyak dan batu bara menjadi energi baru terbarukan termasuk nuklir.
Dia menjabarkan bagaimana negara Eropa seperti Prancis yang memanfaatkan PLTN sebagai sumber energi, dan bahkan diekspor ke negara lain. Lebih lagi, Jerman yang menutup diri akan pembangunan PLTN tetap menggunakan energi dari hasil PLTN yang diimpor dari Prancis.
Di Timur Tengah, lanjut Nasir, Uni Emirat Arab juga tengah membangun empat PLTN yang akan selesai setiap tahun mulai 2017 hingga 2020.
Nasir yang berbincang dengan Menteri Energi Uni Emirat Arab saat peringatan Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun lalu menjelaskan bahwa negara dengan penghasil minyak nomor tiga di dunia tersebut akan mengalihkan produksi energi dari minyak ke nuklir.
"Nuklir adalah masa depan kami, minyak untuk anak dan cucu kami," kata Nasir menirukan jawaban menteri energi Uni Emirat Arab ketika ditanya mengapa menggunakan nuklir.
Arab Saudi yang mengalami defisit anggaran karena harga minyak dunia yang anjlok pun telah memproklamirkan penggunaan tenaga nuklir sebagai pengganti minyak di tahun 2020.
Sementara di Asia, lanjut Nasir, selain Jepang yang sudah lama memiliki PLTN negara tetangga Indonesia yakni Malaysia juga sudah berkomitmen akan membangun reaktor nuklir.
"Negara tetangga kita melihat apabila 2018-2019 Indonesia tidak membangun, dia akan membangun nuclear powerplant di Serawak," kata Nasir.
Dia menjelaskan apabila pertimbangan Indonesia tidak membangun PLTN dikarenakan keselamatan dan keamanan, pertimbangan tersebut akan percuma karena Malaysia akan membangun tenaga nuklir di wilayah yang dekat dengan Indonesia.
"Pertanyaan kalau risiko terjadi bencana siapa yang kena duluan? Kita (Indonesia)," kata Nasir.
Namun dia berkali-kali menekankan bahwa pembangunan PLTN sangat aman dan sangat terkendalikan. Selain itu produksi energi dari PLTN bisa menekan biaya karena sangat murah.
Pewarta : Antaranews
Editor : Totok Marwoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Berikut jadwal India Open 2026: Tiga wakil Indonesia berjuang ke perempat final
15 January 2026 8:34 WIB
Mahasiswa UMS jadi satu-satunya dari Indonesia yang tembus konferensi terkemuka cyber security dunia
13 January 2026 13:28 WIB
Berikut Jadwal Malaysia Open: Lima wakil Indonesia lanjutkan perjuangannya di babak kedua
08 January 2026 11:30 WIB
Terpopuler - Sains dan Rekayasa
Lihat Juga
Mahasiswa SV Undip olah limbah jelantah dengan ekstrak kemangi jadi biocleaner
11 November 2025 8:32 WIB
Tahun depan Pemkot Semarang siapkan bus listrik koridor Mangkang - Penggaron
06 November 2025 21:32 WIB
Dosen UIN Walisongo paparkan metode melihat hilal yang lebih efisien dan tepat sasaran
30 October 2025 12:03 WIB