"Dari nilai ekspor sebesar itu, didominasi ekspor mebel dari kayu yang mencapai 87,77 persen atau 150,32 juta dolar AS," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jepara Yoso Suwarno melalui Kasi Perdagangan Luar Negeri Edi Widodo di Jepara, Senin.

Penyumbang terbesar ke dua, yakni dari komoditas ekspor kayu olahan dengan nilai ekspor sebesar 7,16 juta dolar AS, kemudian karet sebesar 4,6 juta dolar AS.

Nilai ekspor kerajinan kayu dan cendera mata, kata dia, hanya 1,72 juta dolar AS atau meningkat dibandingkan dengan tahun 2014 hanya 591.801 dolar AS.

Trend kenaikan ekspor nonmigas di Jepara, terlihat sejak awal tahun karena bulan Januari 2015 volume ekspornya tercatat hanya 3,8 juta kg dengan nilai ekspor sebesar 12,78 juta dolar AS, kemudian Februari 2015 naik menjadi 4,3 juta kg dan Maret 2015 naik lagi menjadi 5,46 juta kg.

Jika dibandingkan dengan nilai ekspor nonmigas periode Januari-Maret 2014, periode tahun ini justru mengalami peningkatan tajam karena selama tiga bulan nilai ekspornya mencapai 45,94 juta dolar AS dengan volume ekspor mencapai 13,59 juta kg.

Sementara periode Januari-Maret 2014, nilai ekspornya tercatat hanya 27,7 juta dolar AS dengan volume ekspor hanya 8,5 juta kg.

"Dominasi nilai ekspor periode tersebut masih tetap mebel dari kayu," ujarnya.

Kenaikan ekspor tahun 2015, kata dia, didukung banyak faktor, mulai dari sarana dan prasarana serta kebijakan pemerintah soal sertifikat sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK).

Khusus untuk sarana dan prasarana jalan, lanjut dia, kondisinya jauh lebih baik, sehingga mendukung aktivitas perekonomian masyarakat di Kabupaten Jepara.

Sementara faktor SVLK, kata dia, diduga memang turut mendongkrak nilai ekspor mebel dan ukir dari Jepara.