Arkeolog Temukan Sisa Candi Abad ke-14 di Badung
Selasa, 29 Maret 2016 10:24 WIB
Ilustrasi--Dua peneliti dari Balai Arkeologi Denpasar melakukan pengukuran di bekas-bekas candi yang ditemukan di Kelurahan Penatih, Denpasar, Selasa (23/10). Arkeolog memperkirakan candi tanpa ukiran tersebut dibangun abad 13 sampai 15 Masehi. (ANTA
Kepala Balai Besar Arkeologi Denpasar I Gusti Made Suarbhawa di Mangupura, Senin, menjelaskan peneliti menemukan tumpukan batu padas yang tersusun rapi di kedalaman satu hingga 1,5 meter di tiga titik galian.
Tumpukan batu padas pertama ditemukan menjulur dari bawah bangunan pura, tepat di depan gedong arca di lokasi tersebut, dan yang kedua ada di sisi timur gedong arca.
Di tempat penggalian terakhir di sisi timur pura, di samping tembok panyengker atau pembatas, juga ditemukan beberapa tumpukan batu padas.
"Di galian ketiga ini banyak batu padas dalam kondisi tidak utuh," ujarnya
Suarbhawa menduga ada yang merusak tumpukan batu padas itu. "Tim juga menemukan banyak batu padas rusak karena diambil oleh masyarakat sekitar untuk pembangunan tembok panyengker," ujarnya.
Para arkeolog belum bisa mengetahui bentuk candi tersebut. Saat ini para peneliti masih fokus melakukan pengukuran dan mengumpulkan data.
"Saat ini kami fokus mendata, mengukur dan mendokumentasikan setiap temuan," katanya.
Ia menjelaskan penelitian yang dilakukan 18-31 Maret 2016 itu merupakan lanjutan dari penemuan arca, uang kepeng, sarkopagus dan tumpukan batu padas di tempat yang sama. Ia menambahkan penelitian di lokasi penggalian sementara dihentikan dan akan dilanjutkan lagi tahun depan.
Tumpukan batu padas pertama ditemukan menjulur dari bawah bangunan pura, tepat di depan gedong arca di lokasi tersebut, dan yang kedua ada di sisi timur gedong arca.
Di tempat penggalian terakhir di sisi timur pura, di samping tembok panyengker atau pembatas, juga ditemukan beberapa tumpukan batu padas.
"Di galian ketiga ini banyak batu padas dalam kondisi tidak utuh," ujarnya
Suarbhawa menduga ada yang merusak tumpukan batu padas itu. "Tim juga menemukan banyak batu padas rusak karena diambil oleh masyarakat sekitar untuk pembangunan tembok panyengker," ujarnya.
Para arkeolog belum bisa mengetahui bentuk candi tersebut. Saat ini para peneliti masih fokus melakukan pengukuran dan mengumpulkan data.
"Saat ini kami fokus mendata, mengukur dan mendokumentasikan setiap temuan," katanya.
Ia menjelaskan penelitian yang dilakukan 18-31 Maret 2016 itu merupakan lanjutan dari penemuan arca, uang kepeng, sarkopagus dan tumpukan batu padas di tempat yang sama. Ia menambahkan penelitian di lokasi penggalian sementara dihentikan dan akan dilanjutkan lagi tahun depan.
Pewarta : Antaranews
Editor : Totok Marwoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tim gabungan temukan tiga santriwati terseret arus Sungai Lusi Blora meninggal
12 December 2025 18:58 WIB
Tim SAR gabungan temukan dua korban tanah longsor Banjarnegara di hari ketujuh
23 November 2025 8:38 WIB
Tim SAR gabungan kembali temukan dua korban tanah longsor Cilacap pada hari ketujuh
19 November 2025 14:08 WIB
Tim SAR gabungan temukan satu korban bencana longsor di Desa Cibeunying Cilacap
14 November 2025 14:29 WIB
SAR temukan dua mahasiswa UIN Semarang korban tenggelam di Sungai Jolinggo Kendal
05 November 2025 13:38 WIB
Terpopuler - Sains dan Rekayasa
Lihat Juga
Pangeran asal Brunei Darussalam temui Ahmad Luthfi, jajaki investasi energi terbarukan di Jateng
06 February 2026 7:55 WIB
Peneliti ungkap spesies baru Nepenthes dari Kalbar, terpantau awal via medsos
24 January 2026 14:38 WIB
Mahasiswa SV Undip olah limbah jelantah dengan ekstrak kemangi jadi biocleaner
11 November 2025 8:32 WIB
Tahun depan Pemkot Semarang siapkan bus listrik koridor Mangkang - Penggaron
06 November 2025 21:32 WIB