Rini : Sinergi BUMN Pangkas Biaya Logistik Nasional
Jumat, 12 Februari 2016 7:10 WIB
Menteri BUMN Rini Soemarno (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/kye/16
"Sinergi BUMN ini diharapkan dapat membantu memangkas biaya logistik nasional yang saat ini mencapai 27 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB)," kata Rini di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis.
Menurut Rini, sinergi BUMN tersebut meliputi PT Pos Indonesia, PT INTI, PT Garuda Indonesia, PT Jiwasraya, PT Sarinah, PT Kereta Api Indonesia, PT Jasindo, PT LEN, PT Bhanda Ghara Reksa dan PT Varuna Trita Prakarsya.
"Masing-masing BUMN diarahkan untuk memanfaatkan jaringan logistik Pos Indonesia yang tersebar di seluruh nusantara. Ini diharapkan dapat direalisasikan secepatnya," ujar Rini.
Ia menjelaskan, Pos Indonesia yang memiliki kekuatan pada layanan logistik, distribusi dan jasa pengiriman surat dapat dimanfaatkan masing-masing BUMN sehingga lebih efektif dan efisien.
Rini menambahkan dalam program Sislognas, kerja sama Pos Indonesia dengan Garuda dilakukan untuk pengangkatan udara, dengan KAI angkutan darat, dengan Pelni angkutan laut.
Dari sisi finansial inklusion, kerja sama Bank-Bank BUMN dengan Pos Indonesia meliputi pemanfaatan jaringan pos yang tersebar hingga pelosok tanah air untuk pengiriman atau transfer uang.
"Keberadaan kantor pos menjadi supermarket layanan finansial inklusion bagi berbagai bank, serta penyaluran pembiayaan KUR bagi UMKM," ujarnya.
Dengan begitu, tambah Rini, Bank BUMN semakin memasyarakat hingga ke daerah terpencil yang tidak dapat dijangkau, namun dengan Pos Indonesia bisa tersebar dengan baik.
Sedangkan kerja sama dengan perusahaan asuransi antara lain Jiwasraya dan Jasindo untuk pembayaran premi maupun klaim asuransi melalui layanan Kantor Pos Indonesia ke seluruh pelosok tanah air.
Untuk meningkatkan teknologi dan aplikasi logistik Pos Indonesia, dan transaksi keuangan serta "smart office" menggandeng PT LEN dan PT INTI sebagai penyedia solusi aplikasi dan teknologinya.
Kerja sama konkret lainnya ujar Rini, PT Sarinah, perusahaan ritel dan distribusi barang kerajinan dan benda seni produksi para UKM dapat ditawarkan ke sejumlah wilayah lain di nusantara bahkan hingga pengiriman ke luar negeri.
"Smart Logistic"
Sementara itu, Dirut Pos Indonesia Gilarsi Wahyu Setijono mengatakan, pihaknya siap menindaklanjuti program sinergi logistik yang dicanangkan Kementerian BUMN tersebut sejalan dengan transformasi bisnis yang sedang dilakukan Pos Indonesia dengan titik berat pada sistem "smart logistical processing" sebagai tulang punggung utama bisnis perusahaan.
"Memperbaiki sistem logistik nasional dapat memotong mata rantai distribusi sehingga biaya lebih murah dari saat ini," ujar Gilarso.
Ia menjelaskan, biaya logistik Indonesia saat ini masih tinggi sekitar 27 persen dari PDB, lebih tinggi dari Filipina yang sebesar 20 persen, dan Jepang 15 persen.
Menurut dia, dengan terwujudnya sinergi BUMN tersebut diharapkan bisa menurunkan 4-5 persen biaya logistik hingga tahun 2020 menjadi sekitar 22 persen dari PDB.
"Ini bukan pekerjaan mudah, tapi mestinya dengan infrastruktur yang ada semestinya bisa diwujudkan," ujarnya.
"Kita akan lebih memfokuskan pada bisnis logistik, meskipun tetap menjalankan bisnis lainnya seperti kanal pembayaran, surat menyurat dan yang paling berkembang saat ini yaitu e-commerce," ujarnya.
Saat ini belanja logistik seluruh BUMN mencapai sekitar Rp250 triliun per tahun, sehingga sangat potensial jika digarap oleh Pos Indonesia.
"Jika Pos Indonesia mendapat 10 persen saja dari belanja logistik maka setidaknya bisa menjadi potensi pendapatan bagi Pos, di satu sisi BUMN bisa lebih hemat karena akan diikuti dari sisi efisiensi," ujarnya.
Menurut Rini, sinergi BUMN tersebut meliputi PT Pos Indonesia, PT INTI, PT Garuda Indonesia, PT Jiwasraya, PT Sarinah, PT Kereta Api Indonesia, PT Jasindo, PT LEN, PT Bhanda Ghara Reksa dan PT Varuna Trita Prakarsya.
"Masing-masing BUMN diarahkan untuk memanfaatkan jaringan logistik Pos Indonesia yang tersebar di seluruh nusantara. Ini diharapkan dapat direalisasikan secepatnya," ujar Rini.
Ia menjelaskan, Pos Indonesia yang memiliki kekuatan pada layanan logistik, distribusi dan jasa pengiriman surat dapat dimanfaatkan masing-masing BUMN sehingga lebih efektif dan efisien.
Rini menambahkan dalam program Sislognas, kerja sama Pos Indonesia dengan Garuda dilakukan untuk pengangkatan udara, dengan KAI angkutan darat, dengan Pelni angkutan laut.
Dari sisi finansial inklusion, kerja sama Bank-Bank BUMN dengan Pos Indonesia meliputi pemanfaatan jaringan pos yang tersebar hingga pelosok tanah air untuk pengiriman atau transfer uang.
"Keberadaan kantor pos menjadi supermarket layanan finansial inklusion bagi berbagai bank, serta penyaluran pembiayaan KUR bagi UMKM," ujarnya.
Dengan begitu, tambah Rini, Bank BUMN semakin memasyarakat hingga ke daerah terpencil yang tidak dapat dijangkau, namun dengan Pos Indonesia bisa tersebar dengan baik.
Sedangkan kerja sama dengan perusahaan asuransi antara lain Jiwasraya dan Jasindo untuk pembayaran premi maupun klaim asuransi melalui layanan Kantor Pos Indonesia ke seluruh pelosok tanah air.
Untuk meningkatkan teknologi dan aplikasi logistik Pos Indonesia, dan transaksi keuangan serta "smart office" menggandeng PT LEN dan PT INTI sebagai penyedia solusi aplikasi dan teknologinya.
Kerja sama konkret lainnya ujar Rini, PT Sarinah, perusahaan ritel dan distribusi barang kerajinan dan benda seni produksi para UKM dapat ditawarkan ke sejumlah wilayah lain di nusantara bahkan hingga pengiriman ke luar negeri.
"Smart Logistic"
Sementara itu, Dirut Pos Indonesia Gilarsi Wahyu Setijono mengatakan, pihaknya siap menindaklanjuti program sinergi logistik yang dicanangkan Kementerian BUMN tersebut sejalan dengan transformasi bisnis yang sedang dilakukan Pos Indonesia dengan titik berat pada sistem "smart logistical processing" sebagai tulang punggung utama bisnis perusahaan.
"Memperbaiki sistem logistik nasional dapat memotong mata rantai distribusi sehingga biaya lebih murah dari saat ini," ujar Gilarso.
Ia menjelaskan, biaya logistik Indonesia saat ini masih tinggi sekitar 27 persen dari PDB, lebih tinggi dari Filipina yang sebesar 20 persen, dan Jepang 15 persen.
Menurut dia, dengan terwujudnya sinergi BUMN tersebut diharapkan bisa menurunkan 4-5 persen biaya logistik hingga tahun 2020 menjadi sekitar 22 persen dari PDB.
"Ini bukan pekerjaan mudah, tapi mestinya dengan infrastruktur yang ada semestinya bisa diwujudkan," ujarnya.
"Kita akan lebih memfokuskan pada bisnis logistik, meskipun tetap menjalankan bisnis lainnya seperti kanal pembayaran, surat menyurat dan yang paling berkembang saat ini yaitu e-commerce," ujarnya.
Saat ini belanja logistik seluruh BUMN mencapai sekitar Rp250 triliun per tahun, sehingga sangat potensial jika digarap oleh Pos Indonesia.
"Jika Pos Indonesia mendapat 10 persen saja dari belanja logistik maka setidaknya bisa menjadi potensi pendapatan bagi Pos, di satu sisi BUMN bisa lebih hemat karena akan diikuti dari sisi efisiensi," ujarnya.
Pewarta : Antaranews
Editor : Mugiyanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
UMS bersama Undiksha perkuat kolaborasi akademik lewat Konferensi Ilmiah Nasional
14 May 2026 19:25 WIB
Pengelola Gedung Keuangan Negara di Semarang catat penghematan biaya operasional
12 May 2026 23:57 WIB
Potensi besar VKTR bangun ekosistem industri kendaraan listrik nasional di Jateng
11 May 2026 20:09 WIB
Anggota DPD RI: Pemenuhan kebutuhan guru menjadi kunci sukses pendidikan nasional
11 May 2026 18:49 WIB
UMS resmikan PMB SD global citizen Kartasura, usung konsep nasional rasa internasional
11 May 2026 14:14 WIB
Terpopuler - Bisnis
Lihat Juga
Sedekah Sampah Memotivasi Masyarakat lebih Mencintai Lingkungan dan Beramal
12 February 2017 14:35 WIB, 2017
Emil: Subuh Waktu Optimal Sampikan Pesan, Karena Otak Manusia belum Termanipulasi Hal Negatif
12 February 2017 14:29 WIB, 2017
Ketinggian Air Bendung Katulampa Naik Namun Masih Siaga Tiga Banjir
12 February 2017 14:06 WIB, 2017
Istiqlal Tak Mampu Tampung, Lautan Massa 112 Meluap ke Lapangan Banteng
11 February 2017 12:30 WIB, 2017