
Kepala BPBD Jateng: Jalur Evakuasi Merapi Rusak

"Titik-titik pengungsian sudah ada semua fasilitasnya, cuma kendalanya adalah banyak jalur evakuasi yang sudah dibangun di Klaten dan Magelang yang rusak akibat dilewati truk-truk bermuatan galian C," katanya di Semarang, Rabu.
Ia menjelaskan, jalur evakuasi yang rusak itu menuju ke tiga tempat pengungsian di Klaten dan empat tempat pengungsian di Magelang yang telah dibangun permanen sejak 2013.
Menurut dia, yang lebih penting saat ini adalah masyarakat di Klaten dan Magelang sudah tumbuh dengan sistem peringatan dini (early warning system) serta menganggap mitigasi sebagai suatu kebutuhan.
"Khusus untuk 165 kepala keluarga di Klaten yang berada di zona merah diimbau bisa selalu waspada sehingga saat ada pergerakan apapun di Merapi, mereka dengan kesadaran sendiri menuju ke titik-titik pengungsian akhir yang sudah ada," ujarnya.
Sarwa menilai pihaknya saat ini belum perlu membuka "Posko Aju" atau posko siaga darurat bencana di Kabupaten Magelang, Klaten, dan Boyolali yang bertujuan agar petugas dalam penanganan bencana alam.
"BPBD saat ini belum merasa perlu membuka 'posko aju' dan menunggu perkembangan pergerakan dari Gunung Merapi," katanya.
Sarwa mengaku belum dapat memastikan apakah peningkatan status Gunung Merapi dari "aktif normal" menjadi "waspada" itu merupakan bagian dari siklus empat tahunan pascaerupsi pada 2010 dan pascagempa bumi 2006.
"Saat ini masih terus dilakukan penelitian dan pengkajian terhadap pergerakan Gunung Merapi dan setelah berkoordinasi dengan Balai Penelitian dan Penyelidikan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Subandriyo, saya akan menggelar rapat koordinasi dengan delapan kabupaten termasuk forum Slamet dan Merapi," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sarwa mengimbau kepada masyarakat agar tidak terpancing dengan isu-isu yang tidak jelas sumbernya terkait dengan aktivitas Gunung Merapi.
"Masyarakat diharapkan menerima informasi resmi yang disampaikan BPPTKG dan BPBD setempat," katanya.
Balai Penelitian dan Penyelidikan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Rabu dini hari, menaikkan status aktivitas vulkanik Gunung Merapi dari "Aktif Normal" menjadi "Waspada".
BPPTKG Yogyakarta mencatat sejak 20-29 April 2014 gempa guguran dari Gunung Merapi 37 kali, gempa multifase 13 kali, embusan empat kali, gempa tektonik 24 kali, dan gempa frekuensi rendah 29 kali.
Kepala BPPTKG Yogyakarta Subandriyo mengatakan gempa frekuensi rendah mengalami peningkatan signifikan. Pada Selasa (29/4) gempa itu 20 kali yang kemungkinan sebagai indikasi peningkatan fluida gas vulkanik yang berpotensi letusan.
"Pada tanggal yang sama pula terdengar dentuman yang terjadi berulang kali dan terdengar hingga radius delapan kilometer dari puncak Gunung Merapi," katanya.
Pewarta: Wisnu Adhi Nugroho
Editor:
Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
