
Eva: Negara Harus Mumpuni Persempit Ruang Gerak Teroris

"Saya prihatin, fakta-fakta penembakan polisi sepatutnya membuka mata bahwa terorisme masih merupakan bahaya nyata di tengah masyarakat," kata Eva ketika dihubungi dari Semarang, Minggu pagi.
Eva yang juga Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR RI mengemukakan hal itu ketika menanggapi dua anggota Kepolisian Sektor (Polsek) Pondok Aren tewas tertembak oleh orang tidak dikenal di Jalan Graha Raya, Pondok Aren, Tangerang pada hari Jumat (16/8) pukul 21.30 WIB.
Lebih lanjut dia mengatakan,"Saya yakin sasaran utama adalah Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror, tetapi mereka mencari sasaran mudah sehingga sesama anggota Polri yang 'defend less' yang menjadi sasaran."
Meski ada beberapa lembaga intelijen yang punya program teror, seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Strategis (Bais), Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin), menurut Eva, hanya Densus 88 Antiteror yang bergerak di bidang penindakan sehingga pantas jika Polri yang jadi sasaran karena dampaknya langsung terhadap terorisme.
"Sudah sepantasnya dalam sistuasi seperti saat ini, semua lembaga tersebut melakukan koordinasi dan mempunyai agenda bersama untuk memberantas terorisme secara tuntas," katanya menyarankan.
Kejadian itu, kata Eva, mengingatkan semua pihak bahwa suatu ego sektoral dan tiadanya keseriusan dalam "counter" (melawan) terorisme berakibat fatal karena mengumpankan aparat negara bidang keamanan yang "innocent" (tidak merugikan terhadap teroris) menjadi korban dan masyarakat makin terteror.
Oleh karena itu, lanjut dia, dalam melawan terorisme di Tanah Air jangan berorientasi proyek (project oriented) dan pemburu rente (rent seeking). Begitu pula, pengelolaan programnya, juga jangan asal-asalan.
"Sepatutnya kecenderungan tersebut dihentikan, negara harus lebih pintar dan mumpuni supaya hak rasa aman rakyat dipenuhi," demikian anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Eva K. Sundari.
Pewarta: Kliwon
Editor:
Kliwon
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
