Logo Header Antaranews Jateng

Gunakan Toa, Slank Puaskan Penggemar

Minggu, 21 Oktober 2012 06:45 WIB
Image Print
ilustrasi

Ya, hujan lebat selama satu jam lebih yang mengguyur Kota Atlas saat pergelaran "Dji Sam Soe Festival Indonesia" di Stadion Diponegoro Semarang itu membuat sistem kelistrikan panggung mengalami gangguan dan padam.

Setelah hujan reda, suasana Stadion Diponegoro nampak gelap dan tak ada penerangan akibat listrik padam, sementara para Slanker yang setia di tengah lapangan terlihat tak sabar menunggu aksi panggung idolanya.

Beberapa Slanker terlihat menembus pagar barikade untuk mendekat ke panggung, diiringi yel-yel meminta Slank segera tampil. Namun, pihak penyelenggara tidak mau mengambil risiko untuk melanjutkan pergelaran itu.

Slanker yang berhasil menembus barikade dan sudah berada di depan panggung membentangkan sejumlah spanduk berlogo band itu, sementara aparat kepolisian, pemadam kebakaran, dan PMI terus mengawasi mereka.

Akhirnya, seluruh personel Slank, yakni Akhadi Wira Satriaji alias Kaka (vokalis), Bimo Setiawan (Bim-Bim), Ivan Kurniawan, Ridho Hafiedz, dan Abdee Negara, bersama Bunda Iffet ke atas panggung menemui para Slankers.

Namun, tak terlihat alat musik menyertai para personel Slank, seperti Bim-Bim yang biasa menggebuk drum, Ivan menenteng gitar bass, atau Abdee memegang gitar. Hanya nampak toa (pengeras suara) yang dipegang oleh Kaka.

Para personel Slank bergantian membujuk para Slankers untuk mengerti kondisi yang membuat mereka tidak bisa tampil, kemudian Kaka meneriakkan, "Kita akapela saja ya,", disambut teriakan histeris para fans setia mereka.

Berbekal toa, Kaka bersama para personel lainnya menyanyikan setidaknya tiga lagu, yakni "Ku Tak Bisa", "Bidadari Penyelamat", dan "Mars Slankers", yang langsung disambut para Slankers dengan koor secara kompak.

Setelah penampilan "sederhana" itu, disertai permintaan maaf idolanya, para Slankers akhirnya mau dibujuk meninggalkan stadion, meski sempat terdengar teriakan kecewa ribuan Slankers dari Semarang dan sekitarnya itu.

Manager Regional Marketing PT HM Sampoerna Jawa Tengah Baringin Simanjuntak mengakui konser itu diputuskan berhenti sebelum waktunya dengan pertimbangan mengantisipasi risiko atas keselamatan penonton.

"Hujan yang deras ini membuat beberapa area stadion tergenang air. Kita tahu genangan air terhadap listrik akan sangat berisiko. Memang selalu ada risiko, tetapi kami lebih pentingkan keselamatan penonton," katanya.

Penampilan Slank sedianya menjadi pamungkas konser "Dji Sam Soe Festival Indonesia" setelah kolaborasi unsur musik tradisional dan modern yang dibawakan Anji "Drive", Ira Swara, dan Ian Kasela vokalis band Raja.

Di tangan Viky Sianiar, music direktor konser itu, lagu-lagu tradisional hingga pop populer yang dibawakan tiga penyanyi ternama itu diolah menjadi berbeda, misalnya Cublak-Cublak Suweng dan Yen Neng Tawang Ono Lintang.

Lagu-lagu bernuansa tradisional itu dijejali unsur musik modern, sebaliknya lagu popular modern dikolaborasi unsur-unsur musik tradisional, diiringi koreografi penari-penari tradisional yang menyertai penampilan mereka.

Anji, Ira Swara, dan Ian Kasela bergantian membawakan lagu-lagu hasil aransemen Viky dengan sukses, sembari sesekali berduet, dipungkasi lagu "Kebyar-Kebyar" menutup penampilan mereka, sesaat sebelum hujan turun.



Pewarta:
Editor: M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026