
Produsen Tahu Berharap Harga Kedelai Kembali Normal

"Sejak penurunan bea masuk (BM) impor kedelai hingga nol persen, kedelai belum bisa kembali ke harga normal. Kami berharap harga kedelai bisa segera kembali normal," kata seorang pembuat tahu, Wibowo di Kalisari, Banyumas, Senin.
Menurut dia, penurunan BM hingga nol persen tersebut hanya sedikit menurunkan harga kedelai yang sempat mencapai di atas Rp8.000 per kilogram.
"Harga saat ini sekitar Rp7.700 hingga Rp7.800 perkilogram. Kemarin lebih dari Rp8.000," katanya.
Kendati demikian, dia mengatakan, penurunan harga tersebut dinilai masih memberatkan perajin tahu karena harganya masih di atas Rp7.000 per kilogram.
Menurut dia, perajin akan bernapas lega jika harga kedelai berada pada kisaran Rp5.000 per kilogram.
"Di Desa Kalisari terdapat sebanyak 312 perajin tahu dan sekitar lima perajin tempe. Kedelai yang dibutuhkan untuk industri tahu di Kalisari mencapai 7,5 ton per hari," kata dia yang juga Kepala Desa Kalisari.
Oleh karena itu, dia mengharapkan, Gerakan Tanam Kedelai yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas bersama Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto serta Kementerian Riset dan Teknologi di Kalisari, Senin, dapat diaplikasikan oleh petani setempat.
Dengan demikian, kata dia, kebutuhan kedelai di Kalisari dapat terpenuhi dan industri tahu maupun tempe dapat kembali berproduksi dengan baik dan lancar.
Gerakan Tanam Kedelai yang dicanangkan di Desa Kalisari memanfaatkan lahan seluas 2,5 hektare dari lahan seluas 3 hektare yang sebelumnya digunakan untuk menanam padi gogo aromatik varietas Inpago Unsoed-1.
Dalam hal ini, lahan yang tanaman padinya baru dipanen tersebut langsung ditanami benih kedelai tanpa harus diistirahatkan dulu atau menunggu hingga lahannya mengering.
Sebanyak lima varieras kedelai ditanam pada lahan tersebut guna mencari varietas terbaik dan cocok di wilayah itu.
Kelima varietas yang ditanam, yakni varietas Slamet, Mitani, Grobogan, Rajabasa, dan Mutiara.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
