Logo Header Antaranews Jateng

TPID Jateng pertemukan 111 produsen-99 "offtaker" menjaga inflasi

Rabu, 10 Juni 2026 18:38 WIB
Image Print
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. (ANTARA/HO-Pemprov Jateng)

Semarang (ANTARA) - Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah mempertemukan 111 produsen dan 99 "offtaker" (pembeli) bahan pokok penting (bapokting) untuk menjaga inflasi dan memastikan keterjangkauan pangan bagi masyarakat.

Mereka dipertemukan dalam acara Rapat Koordinasi TPID dan Temu Bisnis Kerja Sama Antardaerah (KAD) Intra Provinsi Jateng, di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu.

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menilai kondisi inflasi di wilayahnya relatifnya bagus sehingga perlu dipertahankan, salah satunya melalui kegiatan tersebut untuk pengendalian inflasi.

"Harapannya terjadi kerja sama di antara para bupati/wali kota, produsen dan 'offtaker' yang ada sehingga ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokok penting bagi masyarakat terkendali, outputnya adalah inflasi di Jateng bisa terjaga," katanya.

Ia menyampaikan bahwa Jateng merupakan salah satu lumbung pangan nasional sehingga setiap produksi pangan harus dapat memenuhi kebutuhan Jateng sebelum memenuhi kebutuhan provinsi lain

Salah satu caranya adalah mengefektifkan distribusi pangan antardaerah melalui aglomerasi maupun kerja sama antardaerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jateng M Noor Nugroho menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan upaya bersama untuk memperkuat ketahanan dan stabilitas harga pangan sebagaimana dicanangkan dalam Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

"Yang kita lakukan hari ini adalah bagian dari efisiensi distribusi itu. Kita coba pertemukan para produsen bahan pangan pokok dengan offtaker," katanya.

Melalui pertemuan bisnis tersebut, harapannya offtaker bisa mengumpulkan bahan-bahan pangan yang diproduksi oleh para produsen untuk dipasarkan di wilayah Jateng.

"Tujuannya tentu saja agar harga-harga pangan bisa lebih terkendali," katanya.

Dari temu bisnis tersebut, komoditas paling diminati meliputi beras sebanyak 30 peminat, minyak goreng 24 peminat, cabai 25 peminat, bawang merah 13 peminat, jagung empat peminat, dan telur tiga peminat.

Dari sisi sisi produsen, pasokan terbesar berasal dari komoditas cabai yang dihadiri oleh 33 produsen, beras 28 produsen, jagung 25 produsen, bawang merah 20 produsen, telur ayam empat produsen, dan minyak goreng dua produsen.

"Mudah-mudahan dari pertemuan antara produsen dan offtaker ini dicapai transaksi ataupun komitmen untuk melakukan kerjasama perdagangan. Untuk mendukung itu kami juga buatkan database-nya supaya koordinasi dengan TPID bisa lebih optimal," katanya.

Secara kewilayahan, beberapa daerah juga menunjukkan potensi transaksi yang cukup tinggi dari sisi offtaker, seperti Kabupaten Klaten dan Kota Semarang tercatat memiliki potensi kebutuhan kerja sama terbesar dengan total 11 potensi kerja sama.

Kemudian, Banjarnegara, Banyumas, Kendal, dan Wonosobo masing-masing tujuh potensi kerja sama.

Dari sisi produsen, Kabupaten Demak dan Grobogan masing-masing memiliki sembilan potensi kerja sama, serta Kabupaten Batang dan Brebes masing-masing tujuh potensi kerja sama.


Baca juga: UIN Semarang berhentikan oknum mahasiswa tersangka penggelapan puluhan motor



Pewarta:
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026