Logo Header Antaranews Jateng

Ketika Buah Lempesu Mengajarkan Literasi dan Numerasi

Selasa, 17 Maret 2026 13:03 WIB
Image Print
Harsono, Dosen Pendidikan Akuntansi, MAP FKIP UMS. ANTARA/HO-UMS

Solo (ANTARA) - Oleh Harsono, Dosen Pendidikan Akuntansi, MAP FKIP UMS

Di banyak ruang kelas, pembelajaran literasi dan numerasi sering dipahami sebagai aktivitas yang lekat dengan buku, papan tulis, dan lembar kerja. Anak-anak diminta membaca teks, menyalin kata, atau menghitung angka dalam buku pelajaran.

Cara tersebut tentu penting, tetapi janganlah selalu menjadi satu-satunya jalan untuk membantu anak memahami makna belajar. Di sejumlah wilayah Indonesia, guru justru menemukan cara kreatif dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar yang lebih dekat dengan kehidupan siswa. Salah satunya melalui buah lempesu.

Buah lempesu mungkin terdengar asing bagi sebagian masyarakat perkotaan. Namun bagi anak-anak yang tumbuh di daerah hutan tropis Kalimantan, buah ini bukan hal baru. Lempesu tumbuh liar di hutan dan sering menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Rasanya manis, bentuknya kecil bulat, dan biasanya dikumpulkan ketika musimnya tiba. Guru yang peka terhadap lingkungan belajar, buah sederhana ini ternyata dapat menjadi media pembelajaran yang kaya makna, disamping bisa dimakan.

Pembelajaran literasi tidak selalu harus dimulai dari teks panjang. Literasi juga dapat tumbuh dari kemampuan anak untuk mengamati, menceritakan, dan menuliskan pengalaman yang mereka lihat secara langsung. Ketika guru membawa buah lempesu ke dalam kelas, anak-anak akan tertarik. Mereka memegang buah tersebut, memperhatikan bentuknya, mencium aromanya, lalu mulai bercerita tentang pengalaman mereka ketika memetiknya di hutan bersama keluarga.

Dari titik itulah proses literasi mulai berkembang secara alami. Guru dapat mengajak siswa menuliskan nama buah tersebut, menggambarkan warna dan bentuknya, atau menceritakan bagaimana buah itu tumbuh di hutan. Anak-anak yang sebelumnya kurang tertarik membaca atau menulis menjadi lebih antusias karena topik yang mereka bahas berasal dari pengalaman mereka sendiri.

Selain literasi, buah lempesu juga dapat menjadi media belajar numerasi yang sederhana yang efektif. Misalnya dengan mengajak siswa menghitung jumlah buah yang mereka kumpulkan, mengelompokkan berdasarkan ukuran, atau membandingkan jumlah antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Aktivitas seperti ini membantu anak memahami konsep dasar matematika melalui benda nyata yang dapat mereka lihat, sentuh, dan ada dalam alam pikir mereka.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa numerasi tidak harus selalu diajarkan melalui angka-angka abstrak. Anak-anak sering lebih mudah memahami konsep bilangan ketika mereka mengaitkannya dengan objek konkret di sekitar mereka. Dengan menghitung buah, membagi ke dalam kelompok, atau memperkirakan jumlahnya, siswa belajar matematika secara lebih bermakna.

Yang menarik, pembelajaran seperti ini juga memperkuat hubungan antara sekolah dan lingkungan budaya setempat. Selama ini, sebagian pembelajaran di sekolah sering terasa jauh dari kehidupan sehari-hari siswa. Buku pelajaran mungkin memuat contoh-contoh yang tidak mereka temui di sekitar rumah. Akibatnya, anak merasa belajar adalah sesuatu yang terpisah dari realitas hidup mereka.

Ketika guru menghadirkan buah lempesu sebagai media belajar, sekolah justru menjadi ruang yang menghargai pengalaman lokal. Anak-anak merasa bahwa apa yang mereka lihat di hutan, di kebun, atau di rumah memiliki nilai dalam proses belajar. Hal ini menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Pendekatan berbasis lingkungan seperti ini sebenarnya juga mengajarkan satu hal penting kepada siswa: bahwa pengetahuan dapat lahir dari mana saja. Alam sekitar bukan hanya tempat hidup, tetapi juga sumber belajar yang kaya. Guru yang kreatif mampu melihat potensi tersebut dan mengubahnya menjadi pengalaman belajar yang bermakna.

Di tengah upaya meningkatkan literasi dan numerasi nasional, inovasi pembelajaran seperti ini patut mendapat perhatian. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas teknologi canggih atau laboratorium lengkap. Namun hampir setiap daerah memiliki kekayaan alam dan budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Kreativitas guru menjadi kunci untuk menghubungkan potensi tersebut dengan proses pendidikan.

Buah lempesu mungkin hanya satu contoh kecil. Di daerah lain, guru dapat memanfaatkan berbagai benda lokal seperti biji-bijian, hasil kebun, atau permainan tradisional sebagai media belajar. Yang terpenting bukanlah jenis bendanya, tetapi bagaimana guru menghadirkan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan siswa.

Pada akhirnya, pembelajaran literasi dan numerasi bukan sekadar tentang kemampuan membaca, menulis, atau menghitung. Lebih dari itu, pendidikan bertujuan membantu anak memahami dunia di sekitarnya. Ketika proses belajar berangkat dari pengalaman yang nyata, anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar menghargai lingkungan dan budaya tempat mereka tumbuh.

Dari sebuah buah kecil bernama lempesu, kita belajar bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus rumit. Kadang, inspirasi terbesar justru hadir dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita. Guru yang mampu melihat potensi tersebut telah membuka pintu bagi lahirnya pembelajaran yang lebih hidup, kontekstual, dan bermakna bagi masa depan anak-anak.



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026