Logo Header Antaranews Jateng

Anggota Komisi VII DPR RI mengingatkan dampak konflik Timur Tengah ke pelaku UMKM

Kamis, 5 Maret 2026 08:43 WIB
Image Print
Anggota Komisi VII DPR RI Siti Mukaromah memberi keterangan pers di Purwokerto, Kabupaten Banyumas Jawa Tengah, Rabu (4/3/2026) petang, terkait dampak yang dapat ditimbulkan dari konflik di Timur Tengah terhadap sektor UMKM. (ANTARA/Sumarwoto)

Purwokerto (ANTARA) - Anggota Komisi VII DPR RI Siti Mukaromah mengingatkan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk mewaspadai dampak konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memicu kenaikan inflasi dan fluktuasi harga bahan baku impor.

“Konflik yang terjadi di Timur Tengah tentu akan sangat berpengaruh terhadap pengembangan ekonomi. Inflasi pasti akan semakin tinggi. Nah, salah satu yang terdampak adalah UMKM karena masih banyak yang bergantung pada bahan baku impor dan harganya mengikuti naik turunnya dolar,” kata Siti Mukaromah di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu petang.

Menurut dia, gejolak geopolitik global tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi makro, juga langsung dirasakan oleh pelaku usaha kecil di daerah.

Dia mengatakan ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat UMKM sangat sensitif terhadap perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Legislator yang akrab disapa Erma itu mencontohkan, pelaku UMKM di sektor boga seperti produsen kue dan makanan olahan yang sebagian bahan bakunya masih berasal dari luar negeri.

Ketika harga bahan naik akibat gangguan distribusi atau pelemahan nilai tukar, kata dia, biaya produksi ikut terdongkrak sehingga margin keuntungan menjadi semakin tipis.

“Kalau secara konkret memang belum ada satu formulasi yang pasti. Tapi setidaknya ini harus kita sampaikan kepada para pengusaha UMKM agar berhati-hati. Jangan sampai membeli bahan baku dengan harga lama, lalu ketika menjual hasilnya tidak cukup untuk membeli bahan baku lagi dengan harga yang sudah naik,” kata legislator yang berasal dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah VIII (Banyumas dan Cilacap) itu.

Dia mengaku telah berdiskusi dengan sejumlah pihak yang memiliki perhatian terhadap pengembangan UMKM untuk membahas dampak situasi global tersebut.

Meskipun belum ada kebijakan khusus yang dirumuskan, dia menilai langkah mitigasi perlu dipersiapkan sejak dini agar dampaknya tidak meluas.

Dia juga menyarankan pelaku UMKM untuk tidak terlalu agresif dalam melakukan ekspansi usaha di tengah ketidakpastian global.

Menurut dia, pengembangan usaha sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan stabilitas modal dan daya beli masyarakat.

Selain sektor UMKM, dia juga menyinggung dampak konflik terhadap perjalanan ibadah umrah akibat terganggunya sejumlah jalur penerbangan di kawasan Timur Tengah.

“Kondisi tersebut juga perlu diantisipasi menjelang persiapan musim haji setelah Ramadhan. Namun kita berharap situasi global segera membaik sehingga stabilitas ekonomi dapat terjaga dan aktivitas masyarakat, termasuk pelaku UMKM, dapat kembali berjalan normal tanpa tekanan yang berkepanjangan,” kata Erma.


Baca juga: "Hijasmita", UMKM binaan BRI angkat desain hijab moderen berbasis kearifan lokal



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026