
Bentrok Dua Kelompok di Solo Kembali Terjadi

Pantauan ANTARA di Jalan RE Martadinata Gandekan, Solo, Jumat, kelompok ormas yang terdiri atas seribuan orang mendatangi daerah Kampung Sewu dan Gandekan dengan berjalan kaki. Mereka membawa senjata tajam, batang besi, ketapel, dan tongkat pemukul, melintas di Jalan Tanggul dan memutar melalui RE Martadinata.
Ratusan anggota polisi dengan perlengkapan antihuru hara mengawal kelompok ormas tersebut untuk menghindari bentrok dengan kelompok warga sekitar, sementara warga sekitar diminta untuk tidak keluar rumah untuk mengantisipasi terjadinya bentrok dengan kelompok ormas tersebut. Setiap gang menuju kampung dijaga ketat oleh polisi.
Namun, sejumlah orang dari kelompok ormas, sebagian bersenjata tajam, bisa masuk di gang Bangunharjo RT 1 RW 9, Gandekan dan langsung membacok korban, Ngadiman (60), seorang tukang bengkel sepeda yang sedang duduk-duduk. Ngadiman akibat kena sabetan dari kelompok Ormas itu, terluka di kepala dan tanganya.
Selain itu, korban lainya, Haris, warga sekitar, tiga jarinya putus diduga terkena sabetan pedang dari kelompok Ormas.
Kedatangan kelompok ormas tersebut membuat Kampung Sewu dan Gandekan cukup mencekam terutama di Jalan RE Martadinata. Toko-toko di sepanjang jalan itu tutup, karena khawatir akan terjadi bentrok antara kedua kelompok tersebut.
Menurut Ketua RW 9 Gandekan Wanto, dua korban yang terluka akibat terkena sabetan pedang yakni Ngatiman warga pemilik bengkel sepeda dan Haris warga kampung ini. Keduanya langsung dilarikan ke rumah sakit oleh anggota polisi.
Sementara Kepala Polresta Surakarta Kombes Pol Asjima'in, turun ke lapangan memimpin langsung sekitar 400 anggotanya untuk mengamankan bentrokan dua kelompok massa tersebut.
Sebelumnya, Wali Kota Surakarta Joko Widdodo juga turun ke lokasi bentrokan untuk menenangkan warga di Kampung Sewu dan Gandekan dan meminta warga untuk bisa saling mengendalikan emosinya.
Pewarta: Bambang Dwi Marwoto
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
