Logo Header Antaranews Jateng

AIPMC Ingatkan AS akan Kelompok Minoritas Myanmar

Kamis, 26 April 2012 16:19 WIB
Image Print
Anggota Kaukus DPR RI-Kongres AS dari Fraksi PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari (tiga dari kiri), bersama Derek Mitchell (dua dari kiri), Utusan Khusus dan Koordinator Kebijakan AS untuk Myanmar sekaligus calon Duta Besar AS untuk Myanmar.

Ketua Kaukus Parlemen ASEAN untuk Myanmar (ASEAN Inter-Parliamentary Caucus for Democracy in Myanmar/AIPMC) Eva Kusuma Sundari mengemukakan hal itu dari Washington D.C. kepada ANTARA Jateng, Kamis sore, usai bertemu Derek Mitchell, Utusan Khusus dan Koordinator Kebijakan AS untuk Myanmar sekaligus calon Duta Besar AS untuk Myanmar.

Dubes RI untuk Amerika Serikat, Dr. Dino Patti Djalal, ikut menemani pertemuan antara delegasi DPR RI dan Derek Mitchell pada hari kedua (24/4). Ketua Kaukus DPR RI-Kongres AS Priyo Budi Santosa beserta rombongan berada di Washington D.C. sejak Senin (23/4) dan pulang ke Tanah Air pada hari Jumat (27/4).

Di samping Eva yang juga anggota Kaukus DPR RI-Kongres AS dari PDI Perjuangan yang ikut rombongan itu, antara lain Peggy Patrisia Pattipi (Fraksi PKB), Didi Irawadi (Fraksi Partai Demokrat), Bobby Adhityo (Fraksi Partai Golkar), Teguh Juwarno (FPAN), Ahmad Yani (FPPP), dan Akbar Faisal (Fraksi Hanura).
Priyo Budi Santosa yang juga Wakil Ketua DPR RI pada pertemuan itu mengapresiasi komitmen Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton untuk mencabut sebagian sanksi terhadap Myanmar karena hal tersebut akan dapat membantu peningkatan ekonomi dan "political leverage" Myanmar di ASEAN.

Dalam pertemuan itu Derek mengawali diskusi dengan berterima kasih atas peran aktif Indonesia dalam memotori advokasi isu-isu hak asasi manusia (HAM) serta demokrasi di ASEAN dan Myanmar, baik oleh eksekutif (Kemenlu), parlemen (Kaukus Myanmar-AIPMC) , maupun kelompok-kelompok sipil di Indonesia.

Derek Mitchell menjelaskan bahwa strategi utama AS dalam kebijakan sanksi terhadap negara tersebut justru untuk mendukung kelompok-kelompok reformis di Myanmar sehingga demokratisasi tetap berlanjut di negara tersebut.

"Amerika akan melanjutkan kombinasi kebijakan antara 'pressure' dan 'support' pada 'selected parties' sehingga dapat mencapai tujuan utama tersebut, dan tidak justru memperkuat kelompok 'hardliners' dalam militer Myanmar," kata Eva mengutip pernyataan Derek dalam isi pesannya melalui perangkat komunikasi.

Dikatakan Derek, Indonesia yang dijadikan "role model" oleh Myanmar dalam hal transisi demokrasi diharapkan dapat memfasilitasi proses yang sama di Myanmar.

"Penerimaan kedatangan banyak delegasi dari berbagai kelompok kepentingan, termasuk anggota-anggota parlemen, dari Myanmar ke Indonesia oleh AIPMC harus tetap dilanjutkan dan diperluas dengan kunjungan balik pihak-pihak Indonesia ke Myanmar," katanya.



Pewarta:
Editor: Kliwon
COPYRIGHT © ANTARA 2026