Boyolali (ANTARA) - Tidak mudah bagi Sugiyarto untuk kembali menemukan rasa percaya diri usai mengalami kecelakaan yang membuatnya cedera tulang belakang.
Pria asal Kelurahan Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah ini awalnya merupakan pekerja yang cukup aktif. Selain menjadi buruh bangunan, ia mau melakukan apapun selama mendatangkan rezeki halal bagi keluarganya.
Sampai kemudian kejadian ia yang jatuh dari sepeda motor berdampak pada tulang ekornya yang mengalami benturan. Akibat kejadian tersebut, ia mengalami lumpuh layu. Kondisi tersebut dialaminya sejak 25 tahun yang lalu.
Ia yang biasanya penuh dengan aktivitas mendadak hanya berdiam di rumah karena aktivitasnya terbatas. Giyarto sempat putus asa dan sering murung dalam menjalani hari-harinya. Yang dilakukannya hanya berdiam di rumah, ia enggan menjalani aktivitas lain karena merasa rendah diri dengan kondisinya.
Selama sakit, ia lebih banyak mengandalkan istrinya untuk mencari uang untuk kebutuhan keluarga. Bukan sesuatu yang mudah melihat istri yang dicintainya harus bekerja seorang diri demi keluarga.
"Istri saya kadang ke hutan cari burung buat dijual. Uangnya untuk kebutuhan sehari-hari," katanya.
Sampai kemudian, tepatnya pada tahun 2019 ia kedatangan salah satu aktivis penyandang disabilitas yang ada di daerahnya Sri Setyaningsih yang perlahan menyadarkan untuk kembali bangkit dan beraktivitas. Sri sendiri adalah pendiri sekaligus ketua Kelompok Kreasi Inklusi Nusantara (Kresna) Patra.
Meski telah dibujuk, ia tidak langsung menerima ajakan Sri untuk mau keluar rumah dan bertemu dengan banyak orang.
"Saya diajak ayo kita keluar, bareng teman-teman. Maksudnya biar saya nggak murung di rumah terus, biar pulih kembali mentalnya," katanya.
Namun pada saat itu yang ia pikirkan adalah keterbatasan aktivitas di luar rumah, mengingat kondisinya tidak lagi sama dengan sebelumnya. Apalagi pada saat itu ia tidak memiliki kursi roda untuk bisa kemana-mana.
"Saya kemana-mana kan didampingi istri dan anak. Saat itu saya belum percaya diri. Jadi saya nggak langsung mau dengan ajakan Bu Sri," katanya.
Mulai terbuka
Ia menceritakan Sri Setyaningsih tidak hanya sekali berkunjung ke rumahnya. Pada saat itu Sri datang sampai dengan tiga kali. Masih dengan pesan yang sama, Sri berharap Sugiyarto mau beraktivitas ke luar rumah dan bertemu dengan teman-teman lain yang memiliki kondisi yang sama.
Tidak kekurangan akal, terakhir Sri datang kembali dengan petugas dari Dinas Sosial dan beberapa teman disabilitas.
"Saya dibilangin, apa kamu nggak pengen seperti mereka. Tetap aktif beraktivitas," katanya.
Pada saat itu, Sugiyarto tersadar ternyata di luar sana banyak orang yang kondisinya jauh lebih parah dari dirinya namun mereka tetap bersemangat menjalani hari dan tetap menjadi manusia yang produktif.
"Ada yang nggak punya kaki, ada yang nggak punya tangan. Sampai akhirnya saya gabung dengan mereka dan saya merasa nyaman banget berada di tengah-tengah mereka," katanya.
Ia juga mulai kembali produktif dengan membuka usaha sol sepatu yang dibantu oleh istrinya. Sugiyarto juga mendapatkan bantuan dari Kementerian Sosial berupa sepeda motor yang sudah dimodifikasi menjadi sepeda motor roda tiga. Dengan begitu, ia bisa beraktivitas ke mana-mana.
Mulai menjahit
Sejak bergabung dengan Kresna Patra karena ajakan dari Sri Setyaningsih, Sugiyarto mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas tersebut, salah satunya pelatihan menjahit.
Setelah itu, ia tidak hanya lihai memperbaiki sepatu yang rusak, tetapi juga mulai pandai menjahit. Bahkan saat ini ia aktif mendampingi rekan-rekannya yang baru mulai belajar.
"Yang pelatihan kan banyak, peserta bisa sampai puluhan. Jadi kami mengarahkan yang masih dari nol," katanya.
Di luar kegiatan Kresna Patra, ia masih aktif membuka jasa sol sepatu. Meski tidak setiap hari bersama, Sugiyarto merasa keberadaan Komunitas Kresna Patra tetap spesial baginya karena mampu mengembalikan kepercayaan diri yang sempat hilang.
Ia juga sadar bahwa setiap orang memiliki keistimewaan masing-masing. Baginya, Kresna Patra mampu menghapus keterbatasan penyandang disabilitas.
Pemberdayaan penyandang disabilitas
Bagi Sri, keberadaan Sanggar Kresna Patra yang merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari Pertamina Patra Niaga memiliki tujuan mulia, untuk memberdayakan penyandang disabilitas melalui pelatihan keterampilan dan meningkatkan kemandirian.
Ia sendiri mulai aktif memberikan pelatihan bagi penyandang disabilitas sejak 2017. Sejak itu pula ia juga aktif mencoba menggandeng berbagai pihak agar kegiatan sanggar tersebut dapat terus berkelanjutan. Sampai kemudian bantuan datang dari Pertamina Patra Niaga.
Bahkan, dukungan dari Pertamina membuatnya mampu mewadahi pelatihan bagi ratusan orang yang tidak hanya dari Boyolali, tetapi juga luar Provinsi Jawa Tengah, di antaranya DIY dan Jawa Timur. Mereka tidak hanya diajarkan keterampilan tangan seperti menjahit dan boga, tetapi juga belajar mulai dari berhitung hingga public speaking.
Mengenai program tersebut, Area Manager Communication, Relations, and CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah (JBT) Taufiq Kurniawan mengatakan ada empat dari lima program disabilitas Pertamina di Jawa Tengah berada di Kabupaten Boyolali. Tujuan utama dari program tersebut adalah untuk memberdayakan kaum difabel agar mereka dapat menjadi lebih mandiri secara ekonomi dan sosial.
Dengan berjalannya pemberdayaan tersebut, diharapkan Pertamina mampu ikut mewujudkan tujuan pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Di Boyolali, bantuan dari Pertamina untuk penyandang disabilitas bukan hanya ditujukan kepada Kresna Patra, tetapi juga ada Srikandi Patra, Difabel Ampel, dan Pandawa Patra.
Sejak 2018 hingga 2025, perusahaan energi tersebut telah memberdayakan 650 penyandang disabilitas di Jawa Tengah dengan total dukungan lebih dari Rp2,5 miliar.
"Disabilitas merupakan salah satu komponen kelompok rentan, di dalamnya ada ibu, anak, dan remaja yang perlu didorong agar lebih mandiri. Kami mendukung program pemerintah provinsi melalui konsep kecamatan berdaya dengan memberdayakan potensi lokal dan mengaitkannya dengan masalah sosial di wilayah tersebut," katanya.

