Kudus (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, segera melakukan kajian terhadap sejumlah sekolah dasar (SD) yang pada tahun ajaran baru 2025/2026 mengalami kekurangan murid, bahkan ada sekolah yang tidak mendapatkan murid sama sekali.
"Nantinya, kami akan melakukan kajian secara komprehensif sebelum memutuskan regrouping atau penggabungan. Apakah tidak mendapatkan murid karena faktor demografis seperti keberhasilan program Keluarga Berencana (KB), serta kebiasaan orang tua yang bekerja di kota dan mengantar-jemput anak ke sekolah," kata Bupati Kudus Sam'ani Intakoris.
Dia mengemukakan hal itu saat mengunjungi SD 1 Adiwarno, Kecamatan Mejobo, yang tidak mendapatkan murid di Kudus, Sabtu.
Ia mengungkapkan sudah menginstruksikan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kudus untuk melakukan kajian dengan koresponden dari orang tua siswa untuk ditanya melalui simulasi dan disusun dalam bentuk data statistik dan infografis.
Setelah mengetahui datanya, kata dia, baru akan diputuskan kebijakan terbaik.
Ia juga menegaskan bahwa wacana regrouping harus dilihat dari sisi kebutuhan. Bila memungkinkan, sekolah yang jumlah siswanya sedikit dapat digabung dengan sekolah lain agar lebih efektif.
"Kalau memang memungkinkan, regrouping bisa dilakukan. Tidak ada kendala berarti, karena ini sudah pernah dilakukan. Nanti guru-gurunya menyesuaikan," ujarnya.
Selain efisiensi, penggabungan sekolah juga bisa membuka peluang pengembangan kegiatan lain, seperti pemanfaatan bangunan untuk koperasi sekolah atau program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena tanah sekolah milik pemerintah desa.
Guru SD 1 Adiwarno Nurul Hikmah mengakui tahun ajaran baru 2025/2026 ini sekolahnya memang tidak mendapatkan murid baru, sehingga kelas 1 tidak ada siswanya.
Untuk jumlah siswa total dari kelas II hingga kelas VI, kata dia, sebanyak 23 orang. Meliputi siswa kelas II ada 9 siswa, kelas III ada 2 siswa, kelas IV berjumlah 8 siswa, kelas 5 sebanyak 3 siswa, dan kelas 6 hanya 2 siswa.
Ia mengungkapkan minimnya siswa di sekolah ini mulai terjadi sejak tahun 2019. Karena sebelumnya beredar kabar adanya regrouping atau penggabungan SD di Kecamatan Mejobo, khususnya di Desa Hadiwarno.
Salah satu sekolah yang sempat diwacanakan untuk merger, yakni SD 1 Adiwarno bersama SD Tenggeles. Namun, yang terealisasi baru SD Tenggeles, sementara SD 1 Hadiwarno masih bertahan karena tahun sebelumnya berhasil mendapatkan peserta didik baru meski jumlahnya terbatas.
Ia menduga, salah satu faktor penyebabnya karena lokasi SD 1 Hadiwarno yang cukup jauh dari Taman Kanak-Kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA). Selain itu, sebagian masyarakat masih belum mendapatkan informasi yang utuh mengenai keberadaan SD 1 Hadiwarno, karena papan nama sekolah tertutup oleh bangunan kamar kecil.
Akibatnya, ada anggapan bahwa hanya ada satu SD di kompleks tersebut, padahal ada empat SD, yakni SD 1 Adiwarno, SD 2 Adiwarno, SD 1 Kesambi, dan SD 3 Kesambi.
"Masyarakat cenderung memilih menyekolahkan anaknya ke SD yang muridnya banyak. Tapi kami tetap bertahan," ujarnya.
Saat ini, SD 1 Hadiwarno memiliki delapan guru, yang terdiri dari tiga PNS dan tiga PPPK, serta dua guru wiyata.
Sebelumnya, Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kudus mencatat ada tiga SD yang jumlah siswanya minim karena hanya satu murid, sehingga menjadi pertimbangan untuk dilakukan penggabungan.
Ketiga SD tersebut, yakni SD 5 Jurang (Kecamatan Gebog), SD 1 Wates (Kecamatan Undaan) dan SD 2 Gamong (Kecamatan Kaliwungu).
Baca juga: Bupati: Perubahan APBD Kudus 2025 diprioritaskan untuk infrastruktur

