Logo Header Antaranews Jateng

Menag: Ajaran Buddha minta kepada manusia mengedepankan kehalusan

Senin, 7 Juli 2025 10:14 WIB
Image Print
Menteri Agama Nasaruddin Umar menerima kenang-kenangan dari panitia Indonesia Tipitaka Chanting dan Asalha Mahapuja 2569/2025 di Taman Lumbini kompleks Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Minggu (6/7). ANTARA/Heru Suyitno

Magelang (ANTARA) - Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan substansi dari ajaran Buddha yang minta kepada manusia untuk mengedepankan kehalusan, bukan kekerasan.

"Maka, tadi saya katakan bahwa memang Tuhan yang dalam berbagai perspektif agama itu lebih menonjol sebagai Tuhan feminim, bukan Tuhan maskulin," kata Menag di Magelang, Minggu.

Ia menyampaikan hal tersebut pada kegiatan Indonesia Tipitaka Chanting dan Asalha Mahapuja 2569/2025 di Taman Lumbini kompleks Candi Borobudur.

"Maskulin artinya struggle, menaklukkan, berkuasa. Tapi, Tuhan lebih menonjol sebagai feminim, yaitu nature atau merawat, membina, mengasuh," katanya.

Ia menuturkan, kitab suci juga sama.
Buku-buku sucinya agama Buddha, termasuk juga Hindu dan lain-lain itu lebih menonjol sebagai kitab feminim.


Ia menyampaikan, nabi-nabi atau pimpinannya juga lebih menonjol feminim seperti Sidharta Gautama. Tapi, persoalannya kenapa umatnya maskulin.

"Berarti ada masalah di sini, antara ajaran agama dengan pemeluknya itu ada jarak. Semakin berjarak antara agama dan pemeluknya, itu persoalan. Tapi, semakin dekat antara ajaran agama dengan pemeluknya itu semakin indah kehidupan manusia," katanya.

Ia menuturkan, maka kalau ingin menciptakan keharmonisan dalam kehidupan, harus mencintai bukan dengan sesama manusia saja, tapi mencintai pohon, binatang, dan alam semesta.


Baca juga: 2.007 umat Buddha ikuti Indonesia Tipitaka Chanting di Borobudur



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026