Negeri yang memang harus belajar bencana terus

id refleksi nusantara untuk palu,hotel atria

Negeri yang memang harus belajar bencana terus

Performa doa dusun oleh komunitas seniman kawasan Gunung Sumbing dalam pergelaran "Refleksi Nusantara untuk Palu" di Hotel Atria Kota Magelang, Rabu (10/10) malam. (Foto: Hari Atmoko)

saat ini Bumi sedang mencari keseimbangan baru. Kenali lingkungan, apa ancaman, dan belajar mengurangi risiko
Magelang (Antaranews Jateng) - Belum hilang vibrasi pergelaran "Refleksi Nusantara untuk Palu" oleh kalangan lintas komunitas di Magelang, Jawa Tengah, kabar gempa bumi Situbondo, Jawa Timur viral sampai di tangan pemegang gawai di kota itu.

Sejumlah panitia utama pergelaran di Paramount Ballroom Atria Hotel Magelang yang masih berkumpul untuk evaluasi acara kepedulian dalam kemasan seni budaya hingga beberapa saat selepas Rabu (10/10) tengah malam itu pun, mengecek informasi lebih rinci data kegempaan Situbondo, antara lain tentang magnitudonya, kedalaman, dan pusat gempanya, untuk menerka-nerka seberapa dahsyat dampaknya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika telah memutakhirkan data kegempaan di wilayah Jawa Timur dan Bali dari 6,4 Skala Richter (SR) menjadi 6,3 SR.

Pusat gempa tak berpotensi tsunami pada Kamis (11/10), pukul 01.57 WIB itu, 55 kilometer timur laut Kota Situbondo dengan kedalaman 12 kilometer. Sebanyak tiga orang dikabarkan meninggal dunia dan sejumlah rumah rusak akibat bencana alam pada dini hari itu.

"Gempanya cukup besar lho," kata ketua panitia "Refleksi Nusantara untuk Palu" Chandra Irawan yang di panggung pergelaran malam itu bercerita tentang sejumlah saudaranya yang selamat dari gempa 7,4 SR dan tsunami besar, serta fenomena likuifaksi menerjang sejumlah daerah di Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9) petang.

Bencana alam di Kota Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong, Provinsi Sulteng dalam catatan terkini Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia, puluhan ribu luka-luka, ratusan hilang, puluhan ribu lainnya mengungsi. Selain itu, puluhan ribu rumah warga dan fasilitas umum rusak.

Begitu pula gempa sebelumnya berkekuatan 7,0 SR di Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 5 Agustus 2018 sebagai susulan atas gempa 6,4 SR di kawasan itu pada 29 Juli, mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia, ribuan luka-luka, ratusan ribu mengungsi, puluhan ribu rumah dan fasilitas umum rusak.

Indonesia memang kaya akan catatan panjang sejarah bencana alam di berbagai daerah, seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, dan letusan gunung berapi.

Posisi geologis Indonesia di pertemuan tiga lempeng besar dunia, yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Indonesia juga berada di jalur pegunungan Mediteranian dan zona subduksi karena pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia.

Selain itu, deretan gunung berapi aktif bertebaran di Indonesia sehingga dikenal luas dengan sebutan sebagai negeri "Cincin Api".

Sebut saja sebagai contoh letusan besar sejumlah gunung berapi aktif dalam catatan sejarah, seperti Gunung Tambora (Nusa Tenggara Barat), Gunung Krakatau (Selat Sunda), Gunung Merapi (Jawa Tengah-DIY), Gunung Gamalama (Maluku Utara), dan Gunung Sinabung (Sumatera Utara).

Oleh karena posisi negeri kepulauan Indonesia itu, masyarakatnya memang harus selalu dalam kesadaran tinggi bahwa mereka hidup di daerah rawan segala wujud bencana alam.

Kesadaran kuat atas kerawanan bencana bukan berarti mereka harus hidup dalam kecemasan. Namun, mereka mesti membangun budaya tanggap bencana agar terminimalkan jatuhnya korban dan kerugian lainnya bila kejadian alam itu menerjang.

Boleh jadi latar belakang pentingnya kesadaran tanggap bencana seperti itu, yang melahirkan kehendak kalangan seniman lintas komunitas di Magelang menghadirkan pergerlaran "Refleksi Nusantara untuk Palu" pada Rabu (10/10) malam.?

Terlebih, Magelang juga senasib sepenanggungan dengan daerah lainnya di Indonesia karena berada dalam kerawanan bencana alam.

Magelang adalah salah satu daerah di sekitar Gunung Merapi yang terakhir kali letusan hebat dengan segala dampaknya, seperti hujan abu dan banjir lahar hujan, terjadi pada 2010 hingga 2011.

Ancaman erupsi Merapi dan rentetan bencana pengikutnya masih menghinggap hingga saat ini. Apalagi sejak beberapa waktu lalu, kawah di puncak gunung itu menyembulkan pertumbuhan kubah lava baru yang pada saatnya diperkirakan menjalani peristiwa deformasi.

Berbagai pementasan dan performa seni dari lintas komunitas di Magelang dihadirkan di panggung "Refleksi Nusantara untuk Palu".

Panggung seluas belasan meter persegi digarap seniman Iroel dan Agus Daryanto untuk menghadirkan imajinasi atas kekacauan dan kerusakan akibat bencana alam. Sejumlah seniman dari luar kota juga ikut menghadirkan karya pementasan mereka, seperti musik dan performa seni.

Sejumlah tokoh dan pejabat hadir hingga rampung acara menjelang tengah malam itu, antara lain Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina, Pejabat Sekretaris Daerah Pemkot Magelang Sumartono, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Magelang Edy Susanto, pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thullab Desa Wonosari, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang, KH Said Asrori dan KH Ahmad Labib Asrori, pelaku seni, pemerhati budaya, serta relawan bencana alam. Ruangan besar yang ditata untuk pergelaran dengan total kapasitas 500 orang tampak penuh.

Pementasan yang dihadirkan secara mengalir itu, antara lain tarian, pembacaan puisi, wayang kontemporer hoaks, musik, fragmen anak, musikalisasi puisi, pantomim, performa doa.

Belasan perupa memanfaatkan acara dengan membuat karya "on the spot", berupa lukisan sketsa, dari berbagai tempat di tengah acara yang juga ditandai dengan penggalangan dana kemanusiaan untuk korban bencana di Sulteng.

Kelompok seniman dari Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang di kawasan Gunung Sumbing menghadirkan performa tentang doa warga dusun.

Dengan membawa properti seperti kemenyan, bunga, dan bendera Merah Putih, mereka yang sebagian besar berselempang kain putih berperforma seni diiringi tabuhan gamelan, tembang berbahasa Jawa pengiring tarian Lengger, serta pembacaan guritan.

"`Nalika alam murka. Bumi owah, bumi oncat sanalika. Katututan ombak segara. Manungsa ora bisa apa-apa. Amung pasrah lan ngupaya`," begitu seniman "Sanggar Warga Budaya Sumbing" Juwakir membacakan guritan yang kelihatannya untuk menggambarkan gempa bumi dan tsunami, serta tentang bagaimana manusia menghadapinya.

Seniman Gepeng Nugroho dengan kelompok Teater Jingga menyuguhkan dengan memikat performa pembacaan puisi "Senja Memerah di Pantai Talise".

Pantai Talise salah satu lokasi yang diterjang gempa dan tsunami di Sulteng. Sejumlah seniman dipimpin Aning Purwa menimpali sesi itu melalui performa gerak di atas panggung.

                                                                                   Empati
Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina mengapresiasi pergelaran "Refleksi Nusantara untuk Palu" yang mewujudkan empati lintas komunitas setempat melalui seni dan budaya, bagi korban bencana alam di Sulteng.

KH Said "Gus Said" Asrori mengemukakan adanya hikmah atas musibah yang banyak tertera dalam ayat-ayat suci Al Quran, di mana Allah SWT menciptakan kehidupan dan kematian untuk mendorong manusia melakukan amal kebaikan.

"Pelajaran yang menjadikan orang-orang terbaik, menerima bencana, tabah, kuat, sabar, dan ikhlas menerima semua keputusan Yang Maha Kuasa. Tidak ada yang bisa menolak bencana, begitu juga teknologi. Bahwa manusia lemah, kekuatan hanya dari Tuhan," ujarnya.

Bencana juga menjadi salah satu cara agar manusia saling mencurahkan perhatian, berbagi kasih sayang, dan memberikan pertolongan terhadap sesama.

Budayawan Magelang yang juga pimpinan tertinggi Komunitas Lima Gunung Sutanto Mendut menyebut butuh "multiversitas" dalam menghadapi bencana alam dan menangani dampaknya.

Maksudnya, kira-kira bahwa bencana alam mesti dipandang secara komplet dari berbagai dimensi pengetahuan dan kesadaran manusia.

"Ini `multiversitas`, meskipun Indonesia daerah bencana, saya dan anda tetap tidak mau pindah ke negara lain. Kita berpikir lebih substansial, manajemen bencana yang benar, mitigasi yang bermutu," ujar dia.

Penanganan terhadap dampak bencana, ucap dia, juga membuktikan bahwa Pancasila sungguh-sungguh sebagai kesatuan atas lima sila tentang ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, dan keadilan.

Edy Susanto selain menggunakan pergelaran itu untuk memaparkan tentang standar operasional kinerja jajaran BPBD dan catatan kebencanaan di daerah setempat, juga tentang tanda-tanda kemajuan positif membangun kesadaran masyarakat di daerah itu terhadap mitigasi bencana.

"Kita tahu ancaman bencana, kita punya ilmu mengurangi risiko, lalu kita punya daya bangkit cepat untuk bangun dari bencana," ujar dia.

Meskipun diakui tidak mudah mewujudkannya, kata dia, masyarakat tangguh bencana menjadi kebutuhan mutlak hidup di Nusantara ini.

Luluh-lantak Palu dan sejumlah daerah lainnya di Sulteng akibat bencana alam menjadi pelajaran penting bersama-sama seluruh bangsa karena tinggal di daerah rawan segala wujud bencana alam.

Diharapkan makin kuat kesadaran bangsa ini terhadap pentingnya menjaga ekosistem agar beroleh keseimbangan.

"Kata para pakar, saat ini Bumi sedang mencari keseimbangan baru. Kenali lingkungan, apa ancaman, dan belajar mengurangi risiko," kata dia.

Negeri ini memang harus belajar terus menghadapi bencana alam. Itulah pesan ingin disampaikan melalui pergelaran "Refleksi Nusantara untuk Palu".
Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar