
Gatot: Dokter itu mengabdi kemanusiaan

Semarang (Antaranews Jateng) - Forensik kedokteran termasuk salah salah satu spesialis yang sedikit diminati oleh lulusan dokter yang ingin melanjutkan ke jenjang spesialis.
Citra "kering" sering melekat pada dokter spesialis forensik. Apalagi profesi ini juga dicitrakan dengan penanganan kasus kriminal seperti pembunuhan.
Gatot Suharto, dokter spesialis forensik, tak menampik sepenuhnya anggapan seperti itu. Namun, ia tidak sependapat bila spesialis forensik dianggap kalah gengsi dengan spesialis yang lain, misalnya, spesialis penyakit dalam.
Apalagi dokter forensik juga masih bisa menjalankan keahliannya sebagai dokter umum untuk menangani penyakit yang umum dikeluhkan warga, misalnya, pusing, asam urat, hingga darah tinggi.
Dari tempat praktiknya yang bersih dan nyaman di sebuah klinik di Jalan Imam Bonjol Semarang, dokter kelahiran Surakarta, 20 Februari 1952, itu banyak didatangi pasien dengan aneka keluhan.
Yang istimewa, Gatot menarik biaya murah untuk jasa dan obat. Salah seorang pasien dengan keluhan sakit di kaki hanya dipungut Rp40.000, sudah termasuk obat. Bahkan tidak sedikit yang digratiskan atau cukup bayar Rp20.000.
"Profesi dokter itu kan mengabdi kemanusiaan," kata Gatot Suharto ketika ditemui, Rabu (24/1/2018).
Ketua Program Studi Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang tersebut menegaskan tidak ada yang aneh dengan biaya jasa dan obat yang diberikan kepada pasien.
"Apalagi klinik pratama itu kan juga dapat diskon 30 persen ketika beli obat. Jadi, wajar-wajar saja," kata peraih diploma forensik dari Reijk University Groningen, Belanda dan sarjana hukum dari Untag Semarang tersebut.
Pewarta: Achmad Zaenal M
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
