
Pakar Ungkap Penyebab Web PSSI Diserang Peretas

Para peretas ini bisa siapa pun karena kini para pemula juga bisa mendapatkan tools-nya dengan mudah di internet
Semarang, ANTARA JATENG - Pakar keamanan siber Pratama Persadha mengungkapkan penyebab web pssi.org terserang peretas, antara lain, server portal PSSI mengadopsi Windows 2008 dan web server
apache.
Oleh karena itu, perlu di-update, kata Pratama ketika menjawab pertanyaan Antara di Semarang, Jumat malam, terkait dengan web pssi.org yang mendapat serangan peretas pada tanggal 14 September 2017.
Namun, ketika Antara mengakses pssi.org pada hari Jumat pukul 22.00 WIB, situs web tersebut sudah normal kembali.
Selain itu, lanjut Pratama, tampak ada kelemahan, terutama adanya "error" yang masih belum di-"handle" sehingga muncul informasi tentang struktur directory (root directory). Hal ini bisa dieksploitasi oleh peretas, apalagi diketahui directory access not filtered.
"Sekali lagi ini adalah contoh bagaimana fenomena hacktivist (peretas yang menggunakan teknologi untuk mengumumkan pesan sosial, ideologi, agama, atau politik) terus berkembang di tengah masyarakat," kata Pratama yang pernah sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Pengamanan Sinyal Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg).
Untuk kasus PSSI ini, kata Pratama, peretas memberikan identitas sebagai pihak yang kecewa atas sanksi bagi Persib Bandung. Skuat ini diberi sanksi terkait dengan koreografi Rohongya yang dilakukan para suporternya, Bobotoh. Penyerang sendiri menamakan dirinya "Mujahid Injector".
"Para peretas ini bisa siapa pun karena kini para pemula juga bisa mendapatkan tools-nya dengan mudah di internet," kata Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikas (CISSReC) itu.
Di samping itu, lanjut dia, kurangnya kesadaran akan keamanan siber pada sistem web PSSI turut juga memberikan peran besar. Ke depan sebagai pelajaran, lembaga pemerintah dan instansi lain harus lebih besar perhatian untuk mengamankan aset digital mereka.
Pratama menyarankan agar pengelola web secara berkala melakukan patching (menambal) dan upgrade (meningkatkan) sistem untuk meningkakan keamanan.
Selain itu, juga tidak lupa melakukan penetration test (tes penetrasi) untuk menguji sejauh mana kesiapan sistem mereka sekaligus untuk menemukan lubang keamanan.
Penambahan firewall, web application firewall, dan IPS (Intrusion Preventon System), menurut dia, juga harus diaplikasikan.
"Tak lupa, lembaga seperti PSSI juga bisa membuat semacam kontes atau kuis bagi para programmer yang bisa membantu menemukan celah keamanan ke depannya. Hal ini sudah banyak dilakukan oleh perusahaan besar di luar negeri," kata Pratama.
Pewarta: Kliwon
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
