
Bulog Surakarta Serap 5.040 Ton Beras

Solo, ANTARA JATENG - Perum Bulog Subdivre III Wilayah Surakarta melakukan pengadaan pangan untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Solo dan sekitarnya, realisasinya hingga akhir Pebruari 2017 mencapai 10.080 ton gabah kering panen (GKP).
"Realisasi pengadaan pangan hingga akhir Pebruari ini, mencapai 10.080 ton GKP atau sebanyak 5.040 ton setara beras atau meningkat dibanding bulan sebelumnya hanya 560 ton," kata Wakil Kepala Perum Bulog Subdivre III Surakarta As`adi di Solo, Selasa.
Menurut As`adi, Bulog Surakarta dalam melakukan pengadaan pangan dengan melibatkan sebanyak 73 mitra kerja hingga kini akan terus bertambah hingga memenuhi jumlah yang ditargetkan tahun ini, 105 ribu ton setara beras.
"Mitra kerja Bulog kini sudah banyak yang mengajukan kontrak untuk memasok gabah atau beras ke gudang Bulog yang tersebar di tujuh wilayah kabupaten dan kota di eks Keresidenan Surakarta," kata As`Adi.
Menyinggung soal stok beras di Bulog Surakarta, As`adi menjelaskan masih aman untuk memenuhi kebutuhan pangan di wilayah eks Keresidenan Surakarta hingga tujuh bulan ke depan.
Selain itu, As`adi juga menjelaskan soal pendistribusian beras untuk rakyat sejahtera (rastra) bagi warga kurang beruntung di Surakarta ada peningkatan dibanding tahun sebelumnya.
"Rastra untuk Boyolali mencapai sekitar 1.058 ton per bulan, Klaten (1.638,6), Sukoharjo (717,7), Wonogiri (1.121), Karanganyar (852), dan Sragen (1.145), sedangkan Kota Solo tidak masuk rastra reguler," katanya.
Menurut dia, warga Kota Solo sudah tidak masuk rastra reguler, warga penerima akan mendapatkan bantuan pangan non tunai (BPNT) setiap bulan.
Namun kata dia, Bulog untuk kegiatan pendistribusian rastra reguler tahun ini, masih menunggu surat permintaan dari kabupaten atau pemerintah daerah masing-masing.
Menyinggung soal dampak musim hujan saat ini, apakah menjadi kendala menyerap hasil panen gabah petani, As`adi menjelaskan pengadaan tetap jalan meski kondisi gabah rata-rata kadar airnya di atas 14 persen.
Ketua Asosiasi Perberasan Surakarta, Tulus Budiyono, mengatakan, hujan intensitas tinggi yang terjadi selama masa tanam yang lalu menyebabkan menurunnya kualitas gabah hasil panen petani.
"Produksi gabah petani kualitas menurun, sehingga tidak mudah bisa masuk penyerapan ke Bulog," kata Tulus Budiano.
Oleh karena itu, kata Tulus, serapan gabah hasil panen petani yang dilakukan oleh Bulog tidak bisa maksimal. Bulog menerima gabah harus memenuhi persyaratan yang ditentukan. Harga beras sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) untuk beras kadar air maksimal 14 persen Rp7.300 per kilogram GKP, dan gabah kering giling (GKG) antara Rp3.700/kg hingga Rp4.659/kg.
Pewarta: Bambang Dwi Marwoto
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
