Logo Header Antaranews Jateng

MUI Imbau Masyarakatkan Kedepankan Toleransi Beragama

Jumat, 3 Februari 2017 14:47 WIB
Image Print
Ilustrasi - Sejumlah pemuka agama berdoa saat diskusi lintas agama di Gereja Kristen Indonesia, Sidoarjo, Jawa Timur. (ANTARA FOTO/Umarul Faruq/Dok).

Semarang, ANTARA JATENG - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah mengimbau seluruh lapisan masyarakat di provinsi setempat untuk selalu mengedepankan toleransi antarumat beragama dalam menyikapi berbagai permasalahan yang terjadi.

"Kami mengimbau masyarakat tidak gegabah dan tidak mengambil langkah sendiri-sendiri. Kita tidak ingin ada kekacauan agar semua tenang dalam beribadah, mencari rezeki, dan beraktivitas sehari-hari," kata Ketua MUI Jawa Tengah Kiai Haji Ahmad Darodji di Semarang, Jumat.

Menanggapi sikap Gubernur DKI Nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan tim kuasa hukumnya yang dinilai tidak sopan terhadap Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin sebagai saksi pada sidang kasus penistaan agama, Ahmad Darodji berharap yang bersangkutan benar-benar meminta maaf yang tulus.

"Dalam agama kami ada tobat Nasuha, kita lihaf apakah maafnya sudah betul-betul dan tidak ada kekufuran lagi, mudah-mudahan permintaan maafnya tulus," ujarnya.

Terkait dengan hal itu, MUI Jateng juga meminta Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama bisa dengan bijak menentukan langkah selanjutnya.

Ia mengungkapkan bahwa dari hasil pertemuan yang dihadiri sebagian besar pengurus MUI Jateng beberapa waktu lalu, diperoleh kesepakatan seperti semua pihak diminta berkomitmen menjaga keutuhan bangsa, menyadari bahwa kondisi saat ini tidak normal, mengakui sisi positif pada pihak lain, mampu menyaring informasi yang bisa diteruskan kepada orang lain dan yang harus disimpan sendiri.

"Kesejukan kondisi itu nomor satu, oleh karena itu 'monggo' kita sejukkan kondisi, jangan ada pernyataan yang mengundang kontroversi, syukur-syukur memberi contoh yang menyejukkan," katanya.

Ketua Dewan Pertimbang MUI Jateng Ali Mufiz mengharapkan semua pihak saling menghormati eksistensi masing-masing dan yang tidak kalah penting adalah menjaga tutur kata serta perkataan.

"Penggunaan bahasa yang santun itu menjadi sesuatu yang lebih penting sehingga harus ada kesadaran dalam memilih kata-kata, 'nek rak iso ngendikan sing apik yo meneng wae' (kalau tidak bisa berbicara yang baik, lebih baik diam saja)," ujarnya.



Pewarta:
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026