Logo Header Antaranews Jateng

Santosa, Dokter "Penjaga" Seni

Senin, 19 September 2016 21:52 WIB
Image Print
Para dokter dan tenaga medis berfoto bersama dalam pentas Wayang Orang dengan lakon "Mahawira Sumantri" di Gedung Taman Budaya Raden Saleh Semarang, Sabtu (17/9). (Foto: dr. Damai Santosa/dokumen pribadi).

Semarang, Antara Jateng - "Kalau bukan dimulai dari kita, lalu siapa lagi" kalimat tersebut sepertinya menjadi kalimat "sakti" bagi dr. Damai Santosa, Sp.PD, KHOM untuk terus ikut melestarikan kesenian Jawa.

Kesibukan sebagai dokter spesialis penyakit dalam, tidak menyurutkan semangat ayah dari tiga anak itu untuk terus menjadi "penjaga" seni, salah satunya dengan terjun langsung sebagai pelaku seni, dengan aktif berperan dalam Wayang Orang, Ketoprak, dan Trutuk.

Salah satu contohnya, dr. Santoso bersama delapan dokter lainnya ikut tampil dalam pergelaran Wayang Orang Ngesti Pandowo yang berlangsung pada Sabtu (17/9) malam di Gedung Ki Narto Sabdho Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

Dari total sembilan dokter yakni enam laki-laki dan tiga perempuan, ditambah sejumlah perawat dan tenaga farmasi dari FK UNDIP/Rumah Sakit Umum Pusat dr. Kariadi dan R.S. Pantiwiloso tampil dalam pergelaran Wayang Orang dengan lakon "Mahawira Sumantri".

Dalam pergelaran Wayang Orang tersebut, dr. Santosa berperan sebagai Buta Cakil, sementara delapan dokter laki-laki berperan sebagai para raja sewu dan tiga dokter perempuan sebagai istri Sumantri.

Para dokter yang ikut dalam Wayang Orang tersebut selain dr. Santosa, antara lain dr. Endang Kustiowati, Sp. S(K), dr. Happy Kurnia Brotoarianto, Sp.BS, dr.Yurriz Bakhtiar, PhD.PA. Sp.BS.

Lakon "Mahawira Sumantri" menjadi pilihan, karena menggambarkan perjuangan tokoh Sumantri pada misi kemanusiaan dan hal tersebut sama halnya dengan tugas mulai para tenaga medis, baik dokter, perawat, maupun bagian gizi.

Ada nilai kepahlawanan yang muncul dari tokoh Sumantri, seperti kepandaian, potensi diri, keberanian, pengabdian, dan tanggung jawab yang berpijak pada serat Tri Pama Wira Wiyata bahwa pengabdian Sumantri memiliki karakter sebagai prajurit yang dipandang sebagai pahlawan Kusuma Bangsa.

Jangan Jadi Reog Kedua
Berawal dari kecintaannya kepada seni dan kekhawatiran berulangnya kebudayaan anak bangsa yang diklaim negara lain, dr. Santosa bersama para dokter, perawat, dan bagian farmasi terus menggeluti seni.

Menurut dia, dengan terus melestarikan budaya yang ada, maka akan berbuah manis untuk anak dan cucu penerus bangsa.

"Jangan sampai negara lain mengambil alih kesenian kita, makanya harus kita jaga," katanya.

Pergelaran Wayang Orang di TBRS Semarang pada Sabtu (17/9) malam tersebut, menjadi "magnet" dengan banyaknya penonton yang berasal dari dunia medis, baik dokter, perawat, teman sejawat, para dokter muda, serta masyarakat umum yang mencintai Wayang Orang.

Selain melestarikan budaya Jawa, dr. Santosa juga berpikir bahwa dengan terjun ke dunia seni, di sela-sela aktivitasnya sebagai dokter dan juga dosen di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, bisa mencapai tahapan "terbebas" dari dirinya sendiri.

"Menurut saya, seni itu sangat penting sebagai penyeimbang tubuh. Apalagi hidup itu harus sehat dan seimbang dengan 3O, 2D, dan 1N," katanya.

Tiga O yakni olah jiwa, olah raga, dan olah seni, dua D yakni doa dan duit, serta satu N adalah "narimo ing pandum" (selalu bersyukur dengan yang dikaruniakan Tuhan YME).



Pewarta:
Editor: M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026