
Khofifah: Kirab Mangkunegaran Proses Refleksi

"Saya baru pertama kali mengikuti kirab ini. Ada proses refleksi dan di dalam kehidupan kita ada komunikasi yang harus dilakukan tanpa mengatakan sesuatu," kata Khofifah Indar Parawansa usai mengikuti kirab pusaka Puro Mangkunegaran di Solo, Selasa malam.
Menurut Khofifah Indar Parawansa, komunikasi tersebut terbangun. Hal ini, bagian dari proses pembelajaran sebagai sebuah bangsa yang mencoba memahami dinamika kehidupan masyarakat.
Khofifah Indar Parawansa mengatakan warga yang ada di sekeliling Istana Puro Mangnegaran di Kota Solo ini, sangat banyak dari berbagai suku asal berbagai daerah di Indonesia.
"Mereka tinggal di Solo atau memang sengaja hadir di kota ini, untuk melihat langsung prosesi kirab pusaka tradisi yang digelar setiap tahun ini," katanya.
Artinya, kata dia, perekatan antarbudaya bangsa adalah bangunan-bangunan keserasian sosial disadari atau tidak dipastikan mereka mempunyai makna yang signifikan terhadap kesamaan kesadaran.
Menurut dia, kebinekaan tersebut adalah sebuah Sunnatullah atau tentang hukum alam. Kesadaran ini, terus menerus harus dibangun dan dikomunikasikan.
"Bagaimana sebenarnya kekuatan kekuatan Puro Mangkunegaran sebagai identitas yang kuat budaya jawanya kemudian mengkomunikasikan dengan berbagai macam budaya di luar istana pasti akan memberikan makna signifikasi terhadap hadirnya keberagaman di dalam satu kesatuan," katanya.
Sementara kirab upacara kirab lima pusaka Puro Mangkunegaran di Kota Solo yang digelar pada malam 1 Sura (kalender jawa) atau Tahun Baru Islam 1437 Hijriah, dihadiri ribuan orang masyarakat dari berbagai daerah.
Kirab dipimpin oleh Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Roy Rahajasa Yamin tersebut, dan dilepas langsung oleh Sinuwun Ingkang Jumeneng (SIJ) atau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunagoro IX selaku penguasa Puro Mangkunegaran.
Prosesi kirab malam 1 Sura dengan membawa lima pusaka milik Mangkunegaran berbentuk tombak dengan dibalut kain berwarna kuning mengelilingi Puro Mangkunegaran sejauh sekitar 1,4 kilometer. Setiap pusaka diikuti sebanyak 100 peserta dengan berjalan sambil bertapa membisu.
Kirab selain dihadiri Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, juga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, anggota DPR RI Ario Bimo, dan mantan Wali Kota Surakarta Hadi Rudyatmo serta sejumlah pejabat Muspida Kota Surakarta.
Lima pusaka setelah dikirabkan keliling Istana Puro Mangkunegaran kemudian dikembalikan, diserahkan kepada KGPAA Mangkunagoro IX untuk disimpan, dan ribuan orang pengunjung yang memadati pendopo Puro Mengkunegaran kemudian berebut untuk mendapatkan air yang untuk mensucikan pusaka sebagai berkah.
Pewarta: Bambang Dwi Marwoto
Editor:
Mugiyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
