Logo Header Antaranews Jateng

Ratusan Umat di Muntilan Terima Sakramen Krisma

Jumat, 25 September 2015 21:47 WIB
Image Print
Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang Romo F.X. Sukendar (kanan) memberikan tanda salib di dahi salah satu di antara 233 umat yang menjalani penerimaan sakramen krisma di Gereja Santo Antonius Muntilan, Kabupaten Magelang, Jumat (25/9) petang. (H

Misa kudus penerimaan sakramen krisma untuk umat setempat dan kalangan pelajar dari sejumlah komunitas sekolah Katolik di Muntilan itu, Jumat petang, berlangsung secara khidmat di Gereja Santo Antonius Muntilan, di samping Museum Misi Muntilan.

Sebanyak dua imam lainnya dari gereja paroki setempat yang turut memimpin ibadah tersebut, yakni Romo Athanasius Kristiono Purwadi dan Romo Yohanes Mardi Widayat.

Para guru agama Katolik di paroki setempat, selama sekitar enam bulan terakhir memberikan pelajaran agama Katolik kepada umat yang hendak menjalani penerimaan sakramen krisma sebagai pertanda bahwa mereka telah memiliki iman yang dewasa. Sakramen krisma, salah satu di antara tujuh sakramen dalam agama Katolik.

Mereka yang menerima sakramen krisma, satu per satu maju di depan altar, untuk mendapatkan tanda keimanan Katolik di dahi masing-masing itu dari Vikjen Sukendar dengan diiringi lagu-lagu gereja secara meriah oleh kelompok koor.

Romo Sukendar dalam khotbahnya mengemukakan bahwa mereka yang menerima sakramen krisma itu adalah generasi penerus gereja pada masa mendatang. Mereka akan menjadi pewarta kabar kebaikan dan keselamatan dari Allah kepada lainnya.

"Kita umat Keuskupan Agung Semarang bersyukur karena menyaksikan orang-orang muda yang menjadi penerus dan kader untuk masa depan gereja kita. Kita ingin Yesus makin dikenal dan dicintai. Kita tajamkan hati dan budi melalui kepenuhan inisiasi ini. Menerima kepenuhan inisiasi ini, berarti menjadi saksi Kristus," katanya.

Pada kesempatan itu, ia juga mengemukakan bahwa keluarga memiliki peranan penting dan utama dalam penanaman nilai-nilai kehidupan yang baik bagi anak-anak.

Anak-anak, katanya, harus dibiasakan berperilaku dan bersikap baik, mulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana di dalam kehidupan sehari-hari keluarga.

"Kebiasaan-kebiasaan untuk dihayati sebagai iman dan kepercayaan, dimulai dari keluarga. Dimulai dari hal-hal sederhana, biasa, dan mungkin tradisional, tetapi kita hayati dan kita kembangkan. Kita bisa memperkaya menjadi saksi iman, dimulai dari pengalaman iman dalam keluarga," katanya.



Pewarta:
Editor: M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026