Logo Header Antaranews Jateng

Keyakinan Konsumen Kian Membaik

Kamis, 9 Oktober 2014 17:06 WIB
Image Print
Ilustrasi

Keyakinan konsumen tersebut mematahkan kekhawatiran kalangan pengusaha yang tergabung dalam Apindo yang sebelumnya menyatakan pertarungan politik di DPR dfan MPR belakangan ini bakal melemahkan perekonomian Indonesia.

"Konsumen optimistis, ke depan minat masyarakat untuk berwiraswasta dan menciptakan pekerjaan sendiri diekspektasikan semakin baik, kondisi ini diperkuat oleh optimisme dalam memperoleh pembiayaan/kredit dari bank yang kian mudah," ujar Deputi BI Kantor Perwakilan Wilayah V Marlison Hakim di Semarang, Kamis.

Dari hasil survei yang dilakukan oleh BI memperlihatkan keyakinan konsumen di Jateng saat ini mengalami peningkatan, kondisi tersebut tercermin dari naiknya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) ke level 121,7 dari posisi bulan sebelumnya 119,8
Menurutnya, IKK ini lebih tinggi dibandingkan dengan IKK tiga bulan sebelumnya yang sebesar 112,9 dan IKK pada periode sama tahun lalu yaitu 102,7. Meningkatnya keyakinan tersebut didorong oleh persepsi positif konsumen, baik terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun terhadap ekspektasi kondisi ekonomi 6 bulan mendatang.

"Hal ini tercermin dari meningkatnya Indeks Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 2,6 menjadi 120,3 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 1,1 poin menjadi 123,0," jelasnya.

Menurutnya, menguatnya keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini ditopang oleh persepsi positif terhadap meningkatnya ketersediaan lapangan kerja, yang tercermin dari kenaikan indeks ketersediaan lapangan kerja sebesar 2,6 poin menjadi 104,3.

Seiring dengan kenaikan indeks tersebut, persepsi konsumen terhadap penghasilan juga meningkat sehingga indeks penghasilan naik 2,1 poin menjadi 134,1. Persepsi positif tersebut juga dipengaruhi oleh faktor terkendalinya inflasi Jawa Tengah yang pada bulan September 2014 berhasil mencatatkan inflasi relatif rendah 0,22 persen.

"Besaran inflasi tersebut menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 0,45 persen, kondisi perekonomian yang cukup kondusif ini telah mendorong minat konsumen untuk berinvestasi. Hal ini tercermin dari meningkatnya indeks ketepatan waktu untuk pembelian barang tahan lama sebesar 3,1 poin menjadi 122,6," jelasnya.

Sementara itu, meningkatnya keyakinan konsumen terhadap ekspektasi kondisi ekonomi 6 bulan mendatang tidak terlepas dari persepsi positif terhadap meningkatnya ketersediaan lapangan kerja pada 6 bulan mendatang.

Sejalan dengan persepsi positif konsumen tersebut, indeks penghasilan kedepan diekspektasikan juga meningkat. Konsumen mengekspektasikan pada 3 bulan yang akan datang tekanan harga akan meningkat.

"Sumber tekanan kenaikan harga relatif tinggi terutama berasal dari kelompok transportasi dan kelompok perumahan, listrik, gas dan bahan bakar. Ini sebagai imbas dari penyesuaian harga beberapa komoditas energi, seperti tarif dasar listrik (TDL) dan LPG 12 kg, serta ekspektasi kemungkinan penyesuaian harga BBM bersubsidi oleh Pemerintah," jelasnya.

Sumber lain yang diperkirakan menyumbang tekanan kenaikan harga relatif tinggi berasal dari kelompok sandang dan kelompok bahan makanan. Tekanan harga muncul seiring dengan meningkatnya permintaan komoditas tersebut menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2015.

Tekanan kenaikan harga diperkirakan masih akan terjadi hingga 6 bulan mendatang, meski sudah semakin menurun. Mencermati berbagai risiko inflasi tersebut, Bank Indonesia akan memperkuat koordinasi pengendalian inflasi dengan Pemerintah Daerah, baik Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten/Kota di Jawa Tengah.

Hal ini dilakukan guna meminimalkan dampak lanjutan yang ditimbulkan dan mengarahkan inflasi pada sasaran inflasi yang ditetapkan.



Pewarta:
Editor: Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026