Logo Header Antaranews Jateng

Rokok Lokal Sulit Saingi Rokok Putih

Rabu, 1 Oktober 2014 19:47 WIB
Image Print
Ilustrasi (Foto ANTARA/Andreas Fitri Atmoko)

"Padahal, produk rokok kretek buatan Indonesia saat ini sudah dikenal oleh 47 negara di dunia," ujarnya, ketika berdialog dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di aula Kantor Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK), di Kudus, Rabu.

Artinya, kata dia, ketika masyarakat luar negeri mencium bau asap rokok kretek sudah bisa menebak bahwa rokok tersebut merupakan buatan Indonesia.

Sebelumnya, lanjut dia, mereka justru asing dengan bau asap rokok kretek buatan Indonesia, namun lambat laun akhirnya mereka mengenali kualitas produk rokok kretek Indonesia.

Harapannya, kata dia, kretek menjadi industri "heritage".

Terhadap DPR yang baru dilantik, dia berharap, peraturan yang bakal dimunculkan soal tembakau bisa seimbang dengan kontribusinya dan sisi ekonomi serta soal industri "heritage".

"Harapannya memang muncul peraturan yang komprehensif, khususnya di Negara Indonesia," ujarnya.

Apalagi, lanjut dia, sejumlah negara maju justru berupaya melindungi industri rokok di dalam negerinya agar tidak timbul permasalahan.

Ia mempersilakan pihak yang tidak suka dengan rokok, akan tetapi hak industri tetap harus dihormati.

Nur Wito, pengusaha rokok dari Pabrik Rokok Gentong Gotri menambahkan, seharusnya semua pihak memiliki spirit mengembangkan industri rokok karena memiliki sejarah panjang agar tidak hanya tinggal kenangan.

Pada tahun 2007, lanjut dia, jumlah perusahaan rokok mencapai 1.500 perusahaan, kini hanya tersisa 150-an perusahaan.

"Artinya, fenomena selama tujuh tahun cukup luar biasa," ujarnya.

Meskipun Indonesia tidak meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau konvensi pengendalian tembakau, kata dia, peraturan yang dibuat pemerintah justru mengadopsi FCTC, bahkan jauh lebih berat aturannya meskipun perusahaan rokok juga memberikan kontribusi yang tidak sedikit.

Seharusnya, kata dia, pemerintah memang mementingkan kepentingan nasionalnya, dibanding kepentingan luar negeri.



Pewarta:
Editor: Zuhdiar Laeis
COPYRIGHT © ANTARA 2026